Rabu, 11 Februari 2015

Rindu

Catatan Unknown pada 6:57 PM 0 komentar
Rindu, aku merasa...

Aku duduk disini, di sudut kebekuan. Melihat kearahmu, tapi pura-pura tak melihat. Dan kau tak menggubrisku karena aku seperti biasa, tak ada gerak-gerik hendak mendekat. Menyapapun, aku sepertinya tak mau.

Aah... tapi... rindu, aku merasa...

Asal kau tahu, hatiku telah berbusa. Penuh buih, ingin sekali kau menghampiri. Atau bisa jadi, aku yang menghampiri. Tapi aku tak bisa. Melangkah, barang selangkah.

Dan rindu, aku merasa...

Sabtu, 22 November 2014

Tentang Puisi

Catatan Unknown pada 9:49 AM 0 komentar
Dulu suka iseng ke perpustakaan atau ke gramedia, mencari buku-buku kumpulan puisi. Kini semua bisa diakses dari internet. Iseng-iseng mencari profil beberapa sastrawan, jadi tertarik berbagi beberapa puisi yang meluluhkan hati saya.

Check it out!

Yang pertama, adalah puisi yang sebenarnya entah siapalah penulisnya. Puisi didapatkan dari film yang hitz pada tahun 2002, yang tahun ini kembali di-up oleh Line Indonesia, Ada Apa dengan Cinta. Yang paling saya suka adalah puisi yang difilnya ditulis oleh Rangga dengan judul TENTANG SESEORANG.
Namun, yang membuat terkagum-kagum adalah ketika Dian Sastro membacakan puisi itu, penuh emosi namun datar, membuat puisinya benar-benar berarti.

Rabu, 19 November 2014

Pacar Superhero

Catatan Unknown pada 9:31 AM 0 komentar
Dibalik pria sukses, terdapat wanita yang hebat. Ungkapan itu terpatri kuat dibenakku. Membayangiku kemanapun langkahku. Seperti papaku, seorang pengusaha sukses. Dibelakangnya, mama yang setia selalu ada baik itu mudah maupun susah. Baik kini, saat papa sudah kaya raya, maupun dulu saat sepeserpun receh tak ada ditangannya.

Begitupula dengan idola-idolaku, para superhero. Pahlawan-pahlawan super yang filmnya mampu membiusku berjam-jam di depan layar laptopku. Pembela kebenaran yang poster-posternya memenuhi dinding kamarku. Superman, Spiderman, Iron Man, maupun yang namanya tidak ada embel-embel “Man”, Thor. Merekalah inspirasi terbesar dalam hidupku. Dan di belakang mereka selalu berdiri seorang wanita hebat. Superman dengan Lois Lane, Spiderman dengan Mary Jane, Iron Man dengan Pepper Potts, dan Thor dengan Jane Foster. Dan begitulah aku ingin tumbuh dewasa, menjadi wanita hebat yang berdiri di belakang seorang superhero.

Selasa, 04 November 2014

Upgrading Akhwat Dawa, Detik on Taplau

Catatan Unknown pada 1:00 PM 0 komentar
Sebelum menceritakan kisah seru perjalanan kami, izinkan saya memperkenalkan apa itu detik. Detik adalah singkatan dari Dawa' mEmang canTIK, sebutan untuk lima orang akwat yang aktif di Departemen Dawa'.

Hari, itu, Selasa, 28 Oktober, kami menghadapi Inti dan DPP FSKI dalam mempertanggungjawabkan proker kami selama setengah tahun kepengurusan. Cukup tegang, kami ditanyakan tentang beberapa hal. Setelah selesai, kami berkumpul di depan Gedung I, sekedar bercakap-cakap membahas ini dan itu. Entah dari siapa datangnya, muncullah ide untuk menghibur diri di tengah kepengurusan dengan jalan pagi ke taplau, yang selanjutnya kami sebut upgrading.

Selasa, 02 September 2014

Membuat ATM Baru

Catatan Unknown pada 11:05 AM 0 komentar
Kakiku tetap melangkah biar panas menerpa siang itu. Keringat yang bercucuran kuabaikan. Aku butuh kartu itu, ya, ATM. Kartu yang tanpanya aku akan kelaparan sepanjang hidupku. Kalaupun bisa langsung mengambil uang ke bank, maka aku akan kena biaya 10.000 ribu rupiah. Karena itu, sebelum perutku semakin lapar, sebelum sisa energiku mendekati empty, sebelum metabolisme di tubuhku berhenti, aku harus segera mengurusnya, ATM!!!

Maka aku berjuang siang itu dengan segenap tenagaku, tumpah darahku. Tujuanku, Bank B**, tempat dimana aku dapat membuat ATM baruku, untuk menyambung hidupku.

Sesampainya di bank...
Costumer Cervice: Maaf, Dek, buku tabungannya ada?
Aku: Apa!?

Minggu, 22 Juni 2014

Pengecut

Catatan Unknown pada 11:18 AM 0 komentar
*Sebuah cerpen

Aku tak pernah tahu berapa banyak kini yang mereka percayakan padaku. Yang kurasakan, tiap aku bicara, tiap aku memimpin, aku menjadi orang paling lemah diantara semua yang ada. Aku merasa rapuh, seakan-akan aku adalah pilihan yang salah. Aku merasa tak pantas ada disana dan ingin hilang saja ditelan bumi. Aku takut mengambil keputusan, aku takut membuat gebrakan besar, aku seperti onggok daging yang siap dihina karena kesalahan. 
Ya, aku pengecut. 

Pengecut yang tak tahu diri dan berani berdiri di depan. Dan benar-benar tanpa persiapan.

Andai mereka tahu, aku hanya debu yang peduli pada diriku sendiri. Aku hanya orang yang mebayangkan suatu hari aku bisa menjadi terkenal. Aku hanya manusia dengan pikiran sempit yang mempunyai mimpi untuk diriku sendiri. Aku tak pernah peduli pada yang lain. Pada temanku, apalagi umat. Dan kini, mereka menugasiku untuk memikirkan yang lain, memikirkan tangan-tangan kewenangan yang semena-mena, memikirkan jiwa yang tersudut di pojok nista, memikirkan kupu-kupu beterbangan yang tak tak tahu arah.

Adakah mereka mengerti, aku merasa minder. Minder pada orang-orang yang hatinya memang untuk umat. Minder pada orang-orang yang tulus bekerja untuk orang lain. Minder pada orang-orang yang niatnya semata-mata karena Allah.

Ya, aku rapuh...

Rapuh karena lemah, lemah karena aku begitu picik.

Aku ingin berteriak, "Jangan aku! Semua akan hancur karenaku." Tapi mereka bilang semua itu jadikan saja cambuk untukku.

Aah, benar-benar cambuk. Cambuk yang membuatku perih begitu perih. Cambuk yang melukai seluruh jiwaku. Cambuk yang menghukumku karena baru diawal, aku sudah melakukan KESALAHAN BESAR. Ya, aku tercambuk.

Kini apa? Aku sudah salah melangkah, aku sudah gagal merencanakan, aku benar-benar ingin hilang! Tak ingin ada yang melihatku berjalan. Aku tak mau terlihat oleh mereka yang jauh lebih kuat dari pada aku. Yang lebih pantas mengemban semua ini. Mereka yang lebih baik perencanaannya dan jauh dari kesalahan.

Aku menyesal, kenapa tidak dari awal aku menolahnya.

Aku pengecut!

Rabu, 28 Mei 2014

Pria Tambun

Catatan Unknown pada 12:27 PM 0 komentar
Created by: Intan Ekaverta

Gaffa kecil dengan tubuh kurusnya setengah berlari menerobos keramaian pasar, menyelip diantara orang-orang dewasa. Sesekali ia menoleh ke belakang, melirik pria tambun berkepala botak yang sedari tadi mengikutinya.
Braaakkk....
“Oh Tuhan! Apa yang dilakukan gadis kecil ini?” histeris seorang wanita gemuk ketika Gaffa tanpa sengaja menabrak sebuah keranjang dan menumpahkan berkilo-kilo jeruk.
Ingin sekali Gaffa berhenti sejenak, meminta maaf dan membantu wanita itu mengumpulkan jeruk yang berserakan. Namun jiwanya diliputi rasa cemas. Pria tambun itu tak jua berhenti dari langkahnya, membuat Gaffa melupakan sopan santun.
Dan...
“Sial!” keluh Gaffa. Ia telah keluar dari kerumunan pasar. Orang-orang tidak ramai lagi. Di hadapannya kini terpapar hamparan luas gurun pasir yang diselingi pepohonan kurma. Ia sempatkan sedikit menoleh ke belakang, pria tambun itu masih mengikutinya. Tanpa pikir panjang Gaffa kembali memacu kakinya, berlari sekencang yang ia mampu menjauhi pasar.
Napasnya mulai terengah-engah, cukup jauh sudah ia berlari dari pasar. Gaffa mencoba melirik ke belakang, pria tambun itu tak begitu jauh dibelakangnya.
“Tidak!” gumam Gaffa. Ia mempercepat larinya. Dadanya sudah semakin sesak. Samasekali ia belum pernah melihat pria tambun itu sebelumnya dan tidak tahu apa-apa akan alasan pria itu mengejarnya.
Yang Gaffa tahu saat ini ia harus terus berlari dan berlari hingga langkahnya terhenti di depan sebuah tebing tinggi yang membatasi lereng desanya dengan desa sebelah. Tidak mungkin ia bisa memanjat curam tebing itu tanpa bantuan apapun. Hatinya mulai pasrah walau otaknya tetap bekerja mencari celah.
“Berhentilah Gaffa!” teriak pria tambun itu.
“Dia tahu namaku.” Benak Gaffa. Ia berbalik, sementara napasnya tak lagi beraturan. Pria tambun itu kini tepat berdiri dihadapannya tanpa sesak sedikitpun seperti yang Gaffa rasakan.
Selangkah dua langkah, Gaffa mundur perlahan, semakin mendesak ke arah tebing. Hingga pada langkah kelima tebing itu benar-benar telah menempel dipunggunya.
“Hahahaha...” Tawa pria tambun itu menggema pada bebatuan tebing.
Gaffa kini hanya bisa menatap pria itu pasrah, ia pun tak tahu kemana lagi harus berlari. Sementara dadanya yang terasa penuh membuatnya tak lagi mampu untuk sekedar berteriak.
“Kau tak akan bisa lari lagi. Hahaha...” tawa pria tambun itu semakin kuat. Dari belitan kain pada kaki kanannya pria itu mengeluarkan sebilah pisau. Lalu perlahan pria itu maju mendekati Gaffa sehingga Gaffa dapat melihat jelas dua mata garang pria tambun itu.
“Tunggu!” titah Gaffa.                                          
“Apa lagi anak dungu?” tanya pria tambun itu kasar tanpa sama sekali menurunkan mata pisaunya.
“Sebelum kau membunuhku, kumohon ijinkan aku berdo’a!” pinta Gaffa tegas. Hatinya benar-benar telah diliputi rasa takut, namun ia tak ingin sosok tambun itu tahu ketakutannya.
Gaffa merogoh sakunya, dari sana dikeluarkannya sebuah batu emerald, hadiah pemberian almarhumah ibunya pada ulang tahunnya yang kesepuluh. Sambil menenangkan diri digenggamnya batu emerald itu penuh harap. Matanya yang lelah mulai dipejamkan erat. Dalam hati ia mencoba bicara pada ibunya, memohon untuk memberinya sedikit terang agar ia bisa mengakali pria tambun didepannya ini.
***
Fanny menekan kuat penanya membuahkan tanda titik diakhir paragraf cerita tentang Gaffa. Matanya yang berjam-jam terpaku pada kertas kini mulai menyusuri seisi kamar. Pena hitam yang lama digenggamnya mulai diputar-putar pada sela jemarinya.
Ia kehabisan ide. Ia tak tahu lagi harus menuliskan apa pada cerita tentang Gaffa. Haruskah Gaffa benar-benar dibunuh oleh pria tambun itu? Atau lebih menarikkah jika ibu Gaffa memberikan kekuatan rohnya sehingga sesuatu yang ajaib terjadi sehingga Gaffa selamat dari cengkraman Pria tambun itu?
“Haaah...” keluh Fanny. Ia berdiri meluruskan pegal punggunya. Pena hitam itu masih diputar-putar ditangannya sembari berjalan menuju jendela kamar yang menghadap ke jalan setapak dibelakang kamarnya. Dari sana ia bisa melihat hijaunya pepohonan jeruk, bagian kecil dari perkebunan kakeknya yang ranum. Matanya terasa segar, penatnya sejenak hilang.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba sesuatu memecah lamunannya. Fanny terkesiap, ada seseorang yang lewat di jalan setapak itu, seseorang yang tidak diketahuinya, tapi dikenalnya dengan jelas. Seseorang yang beberapa saat lalu ditulisnya sebagai tokoh antagonis dalam ceritanya. Ya, pria tambun itu. Pria berkepala botak dan mata garang, dengan sebilah pisau bersarang pada belitan kain di kaki kanannya.
Masih antara percaya dan tidak, segelintir rasa takut tibamulai merasuki Fanny. Dalam cerita yang ditulisnya, pria tambun itu adalah sosok yang sangat kejam. Pikirannya semakin tak karuan, berbagai bayangan bergelayutan dipikirannya.
Tok... tok.. tok...
Sebuah ketukan kasar melayang di pintu rumahnya. Suara itu terdengar begitu seram, apalagi Fanny seketika menyadari ia sedang sendirian di rumah. Tanpa dapat berpikir lagi Fanny mengunci engsel pintu kamarnya lalu duduk meringkuk di kasurnya, bersender takut ke sudut dinding.
Tok... tok... tok...
Ketukan kasar itu terdengar lagi, kali ini semakin kuat.
Fanny semakin takut, ingin rasanya ia memanjat keluar dari jendela kamarnya. Namun kakinya seketika menjadi kaku, tidak bisa digerakkan lagi.
Gdubraaak...
“Tidak...” bisik Fanny pada dirinya sendiri.
Pintu rumahnya telah didobrak. Kini langkah kaki pria tambun itu menelusuri ruangan rumah, terus masuk dan... Gdubraak....
Kini pintu kamar Fanny didobrak keras.
“Hahahahha.....” Pria tambun itu tertawa keras penuh kemenangan menemukan Fanny yang ketakutan.
Sementara Fanny terbelalak heran, tokoh yang digambarkannya dalam cerita Gaffa kini nyata berdiri dihadapannya. Sebilah pisau di belitan kain pada kaki kanan pria tambun itupun telah tergenggam erat ditangannya. Sebilah mata pisau menantang dua mata Fanny yang ketakutan.
Fanny mencoba tenang dan berpikir keras. Mungkinkah ini semua ada hubungannya dengan rencana Fanny membunuh tokoh Gaffa dalam cerita itu? Ia melirik pada pena yang tadi diputar-putarnya, pena yang tintanya telah menorehkan cerita yang nyata.
“Tunggu!” titah Fanny, mencoba meningat kalimat yang diucapkan Gaffa dalam ceritanya.
“Apa lagi anak dungu?” tanya pria tambun itu kasar tanpa sama sekali menurunkan mata pisaunya.
“Sebelum kau membunuhku, kumohon ijinkan aku berdo’a!” pinta Fanny tegas. Hatinya benar-benar telah diliputi rasa takut, namun ia tak ingin sosok tambun itu tahu lebih jauh akan ketakutannya.
Fanny mulai menggenggam erat penanya. Ia berharap kertas tempat ia menuliskan cerita kini ada dihadapannya. Namun apa daya, kertas itu jauh dimeja. Ia mulai memejamkan mata. Dalam hati, ia seolah-olah berbicara pada pena itu, menyuruhnya untuk menuliskan keselamatan Gaffa dan keselamatannya.
***
Hannah menekankan jemarinya pada meja membuat bunyi krek yang menghilangkan pegal tangannya. Entah sudah berapa lama ia mengetik, cerpennya tentang pria tambun yang muncul dalam kisah Fanny kini hampir selesai. Namun Hannah bingung, ending apa yang bagus sebagai penutup dari cerpen tak masuk akalnya ini.
Sejenak ia berpikir untuk membuat sosok Gaffa mati dan begitu juga Fanny. Namun sejenak lagi ia berpikir untuk membuat sosok Gaffa hidup dan Fanny mati. Ia mulai jenuh memikirkannya ketika ia memutuskan untuk keluar kamar, sekedar mengambil segelas orange juice di dalam kulkas.
Namun sungguh aneh, matanya terbelalak kaget begitu ia membuka pintu kamar. Seseorang telah berdiri disana. Ya, sosok pria tambun yang diciptakannya sebagai tokoh dalam cerpennya. Pria botak bermata garang.
Hannah mulai takut, ia mundur beberapa langkah kembali memasuki kamarnya sementara pria tambun didepannya juga maju perlahan dengan pisau yang kini telah ada dalam genggamannya.
“Astaghfirullahal’azhim, Tidak mungkin.” Benak Hannah nyaris tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ini kejadian yang sama dengan dua kejadian pada cerpennya. Tak dapat dipercaya.
“Hahahaha....” pria tambun itu mulai tertawa keras.
Hannah terus mundur dan mundur hingga punggungnya menempel pada dinding kamar. Ia diliputi takut dan kebingungan. Bagaimana mungkin cerpennya yang hanya fiktif dapat menjadi kenyataan. Perlahan, ia mencoba mengingat bait akhir dari cerpen itu, bait yang juga diulang Fanny dari cerita Gaffa.
“Tunggu!” titah Hannah.
“Apa lagi anak dungu?” tanya pria tambun itu kasar tanpa sama sekali menurunkan mata pisaunya.
“Sebelum kau membunuhku, kumohon ijinkan aku berdo’a!” pinta Hannah tegas.
Untuk sejenak, Hannah benar-benar dibuat semakin bingung. Sungguh menyedihkan, jika Gaffa menggenggam batu emeraldnya dan Fanny menggenggam penanya, maka ia tidak sedang menggenggam benda apapun. Namun berusaha untuk tetap berpikir jernih hingga ia sadar bahwa bukan benda-benda itu yang akan menyelamatkan nyawanya. Bukan batu emerald ataupun pena yang berkuasa atas dirinya dan segala kisah tak masuk akal ini. Tapi Allah. Ya, Allah, Tuhan semesta alam, yang menciptakan, menjaga, menghidupkan, dan mematikan.
Hannah mulai menutup matanya, menengadahkan dua tangannya yang kosong penuh harap, “Hasbunallahu wa ni’mal wakil...” kemudian dari bibirnya terlantun ayat kursi serta dzkir-dzikir lainnya. Ia meminta keselamatan hanya pada Allah dan memasrahkan diri. Jika memang harus mati ia berharap Allah menerima segala amal baiknya.
Selesai sudah Hanna berdo’a, kini ia mulai membuka matanya, namun terasa berat. Begitu matanya terbuka, keadaan telah berubah. Ia tidak sedang berdiri terdesak pada dinding dan di depannya tidak ada sosok pria tambun itu melainkan sedang duduk di kursi belajarnya dengan laptop terpampang di atas meja. Kepalanya terangkat berat dari punggung tangan yang barusan menjadi bantalnya. Seketika ia menguap.
“Astaghfirullahal’azhim, aku baru saja ketiduran.” Ujarnya heran. Ia hampir tak percaya bahwa apa yang barusan dialaminya adalah sebuah mimpi. Namun badannya terasa begitu segar, seakan-akan ia menempuh puncak nyenyaknya tidur yang dalam.
Hanna meregangkan otot-ototnya sejanak, kemudian matanya kembali fokus pada layar laptopnya, sebuah halaman microsof office dengan paragraf-paragraf kisah tentang Gaffa, Fanny, dan pria tambun yang dibuatnya sebelum tertidur pulas masih menunggu diselesaikan. Ada sedikit heran dihatinya, mimpi tadi terasa begitu nyata. Namun ia hanya menggeleng dan kembali mengetik, melanjutkan kisah Fanny yang telah menari-nari dalam sudut inspirasinya.
***

Jumat, 16 Mei 2014

Cerita

Catatan Unknown pada 11:43 AM 0 komentar
“Dokter Ahmad Akbar Ali. Dia adalah seorang ahli bedah terkemuka. Aku pernah mendengar bahwa ia melakukan operasi plastik pada 5 korban kebakaran di daerah Sanggang beberapa bulan lalu.” Kata Zainudin setelah menghembuskan asap rokonya.
Ratih menyunggingkan sebelah bibirnya. Dahinya mengerinyit menandakan ia berpikir keras. Entah apa maksud lelaki didepannya ini sehingga tiba-tiba menyebutkan nama seorang dokter padanya.
“Kau tahu, Ratih? 5 orang yang dioperasinya saat itu dengan luka bakar parah diwajah mereka berhasil kembali pada bentuk asal. Dokter Ahmad hanya bermodal sebuah foto untuk melakukannya.” Lanjut Zainudin.
“Oh ya? Terus apa hubungannya dokter itu dengan warisan ayah tiriku?”
“Tidak ada yang tahu dimana Bunga kan? Kita telah membuang Bunga jauh. Hanya karena mayat gadis dungu anak kandung Profesor Abil itu belum ditemukan, Profesor Abil tidak bersedia mengganti nama ahli warisnya dengan namamu.”

Zainudin mengangkat rokoknya, mendekatkannya pada bibirnya, dengan nikmat menghisap rokok. Lalu kepulan asap keluar dari bibir dan hidungnya. Sementara itu Ratih memperhatikannya penuh penasaran, menunggu lanjutan kata-kata keluar dari mulutnya.
“Kita bisa minta pada dokter Ahmad untuk mengubah wajahmu menjadi seperti Bunga. Dengan begitu, kau akan tetap bisa menjadi ahli waris Profesor Abil. Toh kita sama-sama harus mengakui, wajah Bunga cukup cantik juga. Tak ada ruginya bagimu, kan?”
Ratih berpikir semakin keras. Matanya yang tajam kini memandang licik. Selama ini sudah cukup Bunga membuat kacau hidupnya. Mulai dari guru-guru homeschoolingmereka yang lebih mengunggulkan Bunga darinya, Arya, anak teman papa mereka yang lebih memilih Bunga daripada Ratih sebagai kekasih, dan kini, warisan. Saatnya Ratih menjadi Bunga, menikmati apa yang telah dikuasai Bunga dengan semena-mena. Tapi...
“Apa kau yakin dengan rencana ini, Zainudin? Aku menjadi Bunga dan akan terkurung dibalik wajahnya, wajah orang yang kubenci hampir selama hayatku.”
Zainudin tertawa lepas. Suaranya menggema ke seluruh ruang tamu. Perutnya yang buncit bergerak naik turun, sementara napasnya sedikit tersenggal. Semasa muda ia adalah supir pribadi Profesor Abil. Namun kini ia dipercaya mengurusi salah satu gudang perusahaan Profesor Abil.
“Dasar renta!” cemooh Ratih merasa keki melihat pria di depannya.
“Hei, papamu yang dungu itu jauh lebih renta dariku.” Zainudin kembali menghisap rokoknya. “Terserahlah, kau mau mengikuti rencanaku atau tidak. Ini tentang masa depanmu, bukan aku.”
Hari semakin sore. Ratih melirik jam tangannya. Sudah saatnya ia pulang. Ia bergegas berdiri, sementara Zainudin dengan acuh berkumul dengan rokoknya.
“Aku pulang dulu, kapan kau bisa mengantarku menemui dokter itu?” ujar Ratih sembari membenarkan letak tas dibahunya.
Tawa Zainudin semakin besar. Kali ini ia tertawa lama hingga membuat Ratih muak menunggu jawaban.
“Besok.” Jawab Zainudin. “Jemput aku jam sepuluh pagi.”
Tanpa banyak tanya lagi Ratih keluar dari rumah Zainudin, menghampiri mobilnya dan pergi. Dihatinya ada seberkan dengki akan Bunga, sekaligus rasa tak sabar menikmati hasil dari rencana hebat ini.

***

Cerita oleh Intan Ekaverta, projck TIM KIKI ^__^

Rabu, 08 Januari 2014

Sekeping Hati

Catatan Unknown pada 12:56 PM 0 komentar
Hidayah, sungguh beruntung gadis itu menemukannya dalam usia yang begitu muda. Anugrah besar ketika ia mulai menutupi seluruh auratnya dan mengabdikan diri atas nama Tuhannya. Ia mendalami kitab-kitab agamanya dan begitu bersemangat mengerjakan amalan-amalan sunnah. Walau kadang jemu dan rindu membuatnya ingin pergi dari pesantren. Ia tetap menguatkan hati mempersiapkan diri untuk hal yang lebih berarti.

Bahkan ia sendiri yang dulu membujuk keduaorangtuanya agar diperbolehkan terkurung dari dunia. Ia sendiri yang bergelora menuntut ilmu lebih dari sekedar menggapai cita-cita. Ia sendiri yang membuat angan untuk menjadi pribadi muslim sesungguhnya.

Ia mulai menghapal qur'an disepertiga malam terakhir. Ia mulai bersemangat membawa angannya jauh dalam pengabdian terhadap agamanya. Ketika... sudah akhir dari masa SMPnya, ia harus pergi dengan segala pertimbangan.

Orang bilang, itu lebih baik untuknya. Tapi...


Kemudian ia terbangun di tempat yang baru. Namun, bukan sayup-sayup sepertiga malam terakhir yang membangunkannya, melainkan adzan subuh. Ia merasa terlambat, ia merasa paginya telah pergi. Ketika ia keluar, ia saksikan teman-temannya tak sempurna menutupi aurat mereka, tak benar-benar mengejar tilawah dan memuroja'ah hapalan, tak sungguh-sungguh mendalami agama. Aah, mengapa disini berbeda? Mengapa dunia yang fana jadi indikator kesuksesan.

Dan ia sendiri. Sendiri dan mulai terbawa arus.

Dalam hatinya penuh pergolakan. Ia masih ingin dikuatkan dengan halaqoh dan ukhuwah. Ia masih perlu ditegur oleh ustadz dan ustadzahnya. Ia belum sepenuhnya matang untuk menjadi sendiri. Ia belum kuat untuk menyandang gelar ghuroba'.

Ia teringat sebuah nasyid, Sekeping Hati.

Ya, Sekeping Hati yang berlari di jalanan sepi.

Ia berlari. Ia berharap tiga tahun terlewati dengan cepat. Ia berharap ia segera keluar dari kehampaan dan mencari lagi cahaya di tempat lainnya. Ia berharap, ia lalui jalanan sepi hingga menumukan keramaian yang bisa membawanya kembali seperti dulu. Ia begitu terobsesi untuk cepat keluar, dan mendapati jalan kebenaran yang indah terbentang, atas nama pejuang.

Dan ia bimbang menyadari dirinya telah melebur. Akankah kakinya kuat untuk tetap melangkah bila bertemu duri di jalan? Sementara ia telah lupa isi kitab-kitab yang dibacanya. Ia telah lupa hadist dan ayat yang dulu dihapalnya. Ia telah membuka sedikit dari aurat yang musti dijaganya. Ia rapuh, lemah, biar lubuk hatinya hancur, ia lebih memilih "diterima" lingkungannya daripada mempertahankan apa yang telah merasuk dalam jiwanya.

Dan ia hanya menunggu, menunggu, dan menunggu, waktu bergulir dengan golakan hati dan kesabaran yang begitu teruji. Suatu saat nanti, ketika tiba saatnya ia dapat menentukan sendiri jalan hidupnya, ia akan mencari lagi cahaya yang dulu ditinggalkannya.

Itulah mengapa ia menamai dirinya, Sekeping Hati.

Jumat, 03 Januari 2014

Escape

Catatan Unknown pada 10:39 AM 0 komentar

Mataku tertuju pada sebuah sepatu teplek merah muda. Sepatu itu pastilah cocok dengan gamis hitamku yang bercorak bunga-bunga merah muda. Aku juga sudah membeli jilbab merah muda dan tas tangan senada sebagai paduannya. Rencanya akan kukenakan dalam pesta pernikahan teman karibku semenjak duduk di bangku menengah atas yang akan dilangsungkan dua minggu lagi.

Dengan sigap kuambil sepatu itu dan kucocokkan dengan kakiku. Sangat manis kelihatannya. Namun kuputuskan juga untuk meminta pendapat Darma, lelaki penggemar kemeja kotak-kotak disampingku. Dengan senyum ramahnya ia mengangguk setuju. Tanpa lebih lama lagi melihat yang lain aku segera membayar sepatu itu. 


Begitu keluar dari toko sepatu, kupandang ramainya kerumunan manusia di mall. Mataku melirik waspada pada orang-orang yang terlintas pandangan. Begitu juga mata Darma. Kami seperti dimata-matai sekaligus memata-matai. Seakan-akan ada golongan musuh yang harus kami hindari.

Berbelok ke arah kiri, kami berjalan dengan cepat. Aku melangkah setengah menunduk, wajahku harus terlindungi dari pantauan orang yang tidak boleh mengetahui keberadaanku. Darma dengan setia menarikku jika aku hampir menabrak siapa saja ketika berjalan.

Menuruni eskalator, mata kami melirik waspada pada orang-orang yang mencurigakan. Seakan-akan kami buronan, dimata-matai sekaligus memata-matai. Seakan-akan kami mengemban misi besar yang sangat rahasia, yang bermanifestasi pada kelangsungan kehidupan orang banyak. Maka kami harus selamat, menjaga agar keberadaan kami tidak terdeteksi orang banyak.

"Dorr!" suara menggemuruh tiba-tiba terdengar satu lantai diatas kami.

Keramaian mall tiba-tiba terusik, Orang-orang yang sebelumnya tenang berlalu-lalang mulai berlarian mencari tempat sembunyi. Wajah-wajah yang tadinya ceria berubah cemas penuh ketakutan.

Sekilas kupalingkan kepalaku kebelakang, sedikit menengadah mencari sumber sementara eskalator berjalan turun. Seorang pria rapi dengan kemeja hitam dan kaca mata hitam menembakkan pistol ke udara. Tapi. masalah lain dengan cepat muncul. Segerombolan suku kubu dengan celana cheers konvensional dan coretan pipi yang khas tiba-tiba mengguyuri pintu depan mall di lantai dimana eskalator kami menuju, baseman. 

Dengan sigap Darma menggenggap erat lenganku, membantuku lompat ke eskalator disebelahnya yang menuju keatas. Tas berisi sepatu merah jambuku jatuh. Sekilas teringat pesta temanku nanti, namun kubiarkan. Kali ini ada yang lebih penting untuk diselamatkan. Sepatu itu bisa dibeli lagi, toh jaraknya masih dua minggu.

Aku dan Darma berlari, berpacu dengan jalan eskalator, lalu berbelok ke arah yang berlainan dari pria rapi yang menambak ke udara tadi. Kami menyelip diantara kerumunan orang-orang ketakutan, sementara gerombolan suku kubu dengan panah dan tombak mengejak kami.

Darma membawaku memasuki lift yang kemudian melaju ke lantai sembilan, lantai paling atas. Lalu kami keluar dan menaiki tangga yang membawa kami ke atap. Sebuah pulpen hitam dikeluarkan Darma dari saku celana hitamnya. Dari mata pulpennya keluar untaian tali yang panjang. Ujung atas pulpen pun berubah menjadi pengait yang kuat. Tak mau kalah, kukeluarkan juga benda yang sama dari tas sampingku. Kami mulai beraksi, menuruni bagian belakang gedung dengan cepat. Aku sedikit terganggu dengan rok panjang yang kukenakan, namun bukan masalah berarti. Kecepatanku tak kalah dari Darma.

Tak sampai semenit, kami sampai di bawah. Darma menekan tombol klik di sisi pulpennya sehingga pengait hilang dan tali kembali masuk ke pulpen. Begitu juga aku. Kemudian kami lari, sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya. Menjauhi kejaran suku kubu dan panah-panah yang yang mulai dilemparkan dari atap gedung.

Dan aku, terbangun. Dua kali sudah mimpi aneh itu bertandang dalam tidurku. Pada kenyataanya, aku bahkan belum pernah ke mall itu, dan aku sama sekali tidak mengenal Darma. Apalagi misi yang kami emban yang membuat keselamatanku menjadi taruhan.

Masih separuh mengantuk, kuputuskan berdiri dari kasurku. Baru kusadar pakaianku masih sempurna menutupi auratku, aku pasti tertidur kelelahan setelah pulang dari kampus siang tadi. Kulirik jam, masih satu jam lagi sebelum azan ashar. Kuputuskan untuk membasuh muka, merapikan kembali pakaianku dan membeli roti di luar apartemen.

Baru saja kubuka pintu kamar apartemenku sedikit, aku dikejutkan oleh orang-orang kubu yang lalu lalang, seakan-akan mencari sesuatu. Segera kututup kembali, otakku tiba-tiba menyeruak agar aku menyelamatkan diri. Kuputar mataku, melihat apapun disekelilingku. Tanpa pikir panjang, kubuka jendela apartemenku, dan kupandang yakin sembilan lantai kebawah. Tidak ada Darma yang membantuku lari, tidak ada pulpen bertali yang menakjubkan. Ya, tidak ada apa-apa yang menjamin nyawaku.

Perlahan kututup mataku, kuyakinkan diriku. Semua itu tidak berarti, karena aku punya satu yang kuyakin lebih dari apapun, Allah. Ya, Allah, yang hidup matiku ada ditangannya. Sekarang, yang penting, aku melarikan diri, mengusahakan keselamatanku sekaligus menyelamatkan misi yang tak kumengerti.

Senin, 25 November 2013

Begitu Kecil

Catatan Unknown pada 1:44 PM 0 komentar

Sekali lagi menguap, ya, menguap. Masih dengan sedikit nyawa aku perlahan duduk bangun dari tidur panjangku. Kulihat arah ventilasi, sinar mentari berebut masuk memanasi lantai kamarku.

Aah, sudah siang.

Aku pun berdiri, menghampiri jendela dan membuka tirainya. Silau cahaya menerpa mataku hingga mengejap ngilu. Segera kututup lagi. Kukucek-kucek mataku.

Setengah jam kemudian, aku telah selesai mandi dan berpakaian. Sebelum itu, aku perlu sarapan pagi. Kusuap sesendok dua sendok nasi, berlaukkan ikan goreng.

Selesai makan, HP berdering. Kuangkat, telpon dari orangtuaku di kampung. Alangkah senangnya mendapati pujian-pujian manis, karena sampai detik ini akulah satu-satunya anak mereka yang berhasil kuliah ke kota, dari enam bersaudara. empat kakakku tak hendak melanjutkan sekolah, SMA saja kacau. Tinggallah adikku, Si Bungsu, yang masih menjalani masa SMA. Itupun nilai raport hampir semuanya merah.

Apalagi unggulnya diriku di kampus. Nilai ujian A, praktikum A, rajin sholat, rajin menyapa dosen, hidup teratur, belajar selalu. Apa lagi yang kurang.

Butir-butir nasipun habis, aku kemudian berdiri, menuju pintu. Perlahan, kubuka pintu dan kulangkahkan kaki keluar. Tapi, siang ini terasa berbeda. Terik mentari jauh lebih bersahabat. Pohon-pohon rindang berbaris ditepi jalan, menyapa pejalan kaki. Sejak kapan tumbuhnya? Dan aku takjub, ketika buah-buahan menjuntai dari rantingnya, bisa langsung dipetik dan dipilih sesuka hati. Satu pohon menghasilkan bermacam-macam buah. Apel, mangga, jeruk, sawo, hmmm....

Hey, aspal ini, mengapa lunak? Seperti dilapisi karpet lembut. Orang yang terhempas dari motorpun tak akan luka karenanya.

Aku berjalan lagi, berjalan dan berjalan, menuju kampus. Tiba-tiba sebuah benda melaju hampir menabrakku. Membuatku kaget setengah mati. Sekilas, kupikir itu motor. Tapi, benda itu melajang, dua jengkal diatas aspal. Tanpa asap, tanpa polusi. Mainan baru semacam apa itu. Dan selang beberapa detik kemudian, puluhan lagi benda semacam itu berseliweran. Adapula yang menyerupai mobil.

Masih kulanjutkan perjalanan, lagi-lagi aku dikagetkan oleh hal aneh. Ubin penyebrang jalan. Ya, begitulah yang kubaca di papan namanya. Orang-orang dengan santai menginjakkan kaki mereka di salah satu ubin 1 x 1 meter yang berjejer, lalu ubin itu meninggi, perlahan, membawa mereka ke sebrang jalan. Seimbang sempurna!!! Satupun tidak ada yang jatuh ke bawah.

Dengan perasaan yang bingung, masihkah aku di bumi, akhirnya sampai juga aku di gerbang kampus. Tapi pagar yang menjadi jalan masuk satu-satunya menjadi sepuluh kali lebih tinggi. Dan kali ini, tertutup. Bagaimanalah caraku bisa masuk jika begitu. Kuperhatikan orang-orang, melangkah ke pinggir gerbang, berdiri di depan sebuah layar hijau, yang dari sana keluar cahaya scanner yang membaca mata orang di depannya. Di layar, akan terpampang nama, angkatan, fakultas, dan jurusan orang tersebut. Kucoba pula, tersebutlah identitasku disana. Gerbang pun terbuka, untukku.

Aku masuk, dan kulihat semu, sebuah poster besar menyambut. Disana terpampang empat foto yang tidak asing lagi bagiku. Pertama, kakakku yang pertama, Nurijah, seorang petani. Kemudian, abangku, Soekiman, seorang kuli. Disampingnya, abangku lagi, Tresno, seorang montir bengkel kampung. Terakhir, kakak perempuan diatasku, Suhartini, seorang penjaga warnet. Disana tertulis kata-kata seminar eksklusif, berkarya untuk negri.

Apa pula ini, membuatku semakin heran dan semakin heran saja. Kuputuskan untuk mengingat dengan baik jam seminarnya, dan sepulang kuliah kuputuskan untuk mengikuti acara tersebut.

Kata demi kata kudengar, ternyata mereka berempat telah berinovasi. Mulai dari rasa peduli terhadap negri, cita-cita membangun peradaban yang lebih baik, hingga ide-ide yang dipaksakan muncul. Tak perlu nilai A sepertiku, tak perlu ijazah, cukup dengan tekad yang kuat dan keyakinan. Semangat belajar tak harus diukur dari kuliah tak kuliah. Ternyata, walau tak berkesempatan kuliah, mereka tetap giat, mendalami ilmu masing-masing, mencuri buku yang telah dibuang, dan membaca journal-journal. Dan yang terpenting adalah, keinginan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Di akhir seminar, dihadirkan seorang wanita baya yang menangis haru, Ibu. Mereka berpelukan. Kemudian datang seorang anak laki-laki dengan seragam SMA naik ke panggung, ikut berpelukan.

Hatiku tiba-tiba menjadi perih. Ingin rasanya aku juga naik keatas panggung. Tapi aku telah lama tertidur. Kupikir, akulah yang hebat, paling juara. Namun aku belajar untuk diriku sendiri. Aku beramal untuk masa depanku sendiri. Sementara mereka, tak perlu embel-embel gelar, namun bergerak untuk masyarakat luas.

Aah, aku benar-benar telah lama tertidur, ternyata aku begitu kecil.

Padang, 24 November 2013

Rabu, 16 Oktober 2013

Do'a Mali

Catatan Unknown pada 10:43 PM 2 komentar
Cerpen ini dimuat di http://www.lokerseni.web.id Juli 2013 lalu. Padahal cerpennya agak ga nyambung gitu sih, hihihi...


Doa Mali
DOA MALI
Karya Intan Ekaverta

Langit sore tampak mendung. Awan-awan yang menggumpal gelap berjalan pelan diantara angin. Pepohonan pun tak hendak kalah, biar tak kuasa berpindah namun dedaunannya melambai terjang, seolah sekuat tenaga mengejar jalannya awan. Burung-burubg yang biasanya kerap menghiasi cerah langit sore pun kini tak satupun tampak, entah kemana bersembunyi.

Tik... kurasakan ada yang menetes dipipiku. Aku menengadah, tampaknya gumpalan awan mulai tak sanggup menahan beban. Walau hanya setetes yang jatuh, kupercepat langkahku memasuki salah satu gang di perumahan. Jangan sampai tetes-tetes lain yang akan menyusul membasahi jilbab putih dan seragam putih abu-abuku yang harus kembali dipakai esok hari.

Semakin mendekati rumah, semakin ramai tetes-tetes hujan turun ke bumi. Dua rumah lagi adalah rumahku, sedikit lagi, sabarlah hujan. Aku bergegas. Namun hidungku bergidik seketika. Ada bebauan yang mampir, menggelitik tiap dinding hidung dan trakeaku. Saat itu pula mataku menangkap seorang pria dengan topi cowboy, celana sebetis, dan baju kaos orange yang khas. Aku mengerinyitkan dahi, orang itu, kenapa sore-sore ada di depan rumahku? Bukankah biasanya dia bekerja dipagi hari dan selesai sebelum matahari menjilat sedap di siang bolong.

Benar saja aku mengenalnya. Ia adalah salah satu orang eksis di perumahan ini. Bagaimana tidak, setiap hari dengan gerobak usangnya ia mengangkut sampah dari rumah-rumah untuk dibawa ke ujung jalan besar yang kemudian akan diangkut truk sampah. Konon kata para tetua disini, profesi ini telah digandrunginya sejak usianya masih belasan tahun, itulah sebabnya warga terbiasa memanggilnya tanpa sebutan Bapak walau sekarang ia bukan lagi seorang remaja. Tantunya dari wajah kotor dan hitamnya dapat diprediksi bahwa ia kini sudah kepala empat.

Ya, dia Mali. Mali, dengan nama itulah orang-orang perumahan mengenalnya.
Dengan menahan bebauan, kumasuki rumah tanpa sedikitpun terinspirasi untuk berbasa-basi menyapa Mali. Sementara itu hidungku yang bertanya-tanya tentang bebauan mendapatkan jawabnya. Bau itu berasal dari gerobak Mali yang tepat terparkir di depan pagar sepinggang di depan rumahku yang jauhnya hanya semeter dari pintu utama.
Hujan mulai turun. Awalnya hanya gerimis, lalu perlahan semakin deras, dan semakin deras.
***

Petir berseling-seling menyambar sementara angin bertiup semakin dingin. Rintik hujan diluar mulai lebat, mendendang di genting rumahku. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian ketika kulihat di meja makan ibu sedang menuangkan mie instan yang telah matang ke piring. Ini dia momen yang paling kutunggu setiap hujan lebat tiba. Sudah jadi kebiasaan aku dan ibu menikmati mi kuah hangat sembari membuka pintu ruang tamu lebar-lebar dan memandangi hujan sore diselanya. Terkadang menyakitkan juga mengingat hal-hal seperti ini hanya dapat kulakukan berdua dengan ibu. Namun apa boleh dikata, ayah telah dipanggil sejak dua tahun lalu.
Dengan semangat, kuambil baki dan kuletakkan dua piring mie di atasnya. Lalu kulangkahkan kakiku riang ke ruang tamu. Sementara ibu membawa dua gelas susu hangat ditangan kiri dan kanannya mengikuti langkahku ke ruang tamu.

Tapi, sesuatu menghentikan langkahku begitu membuka tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang belakang rumah mungilku. Hidungku kembali mendapat sinyal buruk, seketika aku teringat akan Mali, mungkinkah ia dan gerobak sampahnya yang bau masih bertandang di depan rumahku? Kuletakkan baki di atas boofet dan kubuka tirai sambil mengintip keluar. Dan benar, Mali masih disana, dengan sekuat tenaga menahan gerobak sampah dipinggul kanan yang dimiringkan sementara tangannya memutar-mutar roda gerobak yang rusak

Aku memelas, ternyata gerobak Mali rusak dan sepertinya ia butuh waktu lama untuk memperbaiki gerobaknya. Sementara itu, baunya akan tetap masuk ke ruang tamuku yang artinya, aku dan ibu tidak bisa menikmati mie bersamaan dengan menikmati hujan. Ibu hanya tersenyum seakan-akan menyurhku bersabar dan menyuruhku membawa baki kembali ke meja makan di belakang. Kami tetap menghabiskannya dengan ceria.
***

Azan maghrib berkumandang. Biasanya aku dan ibu akan berangkat ke mesjid yang tidak jauh dari rumah. Tapi hujan turun mulai lebat sehingga kami putuskan untuk sholat berjamaah di rumah saja. Seusai sholat, aku membaca satu halaman ayat suci al-Qur’an. Setelah itu kuambil buku-bukuku dan membawanya ke ruang tamu. Ya, disanalah aku terbiasa menyelesaikan tugas-tugas sekolahku karena cahaya lampu di ruang tamu adalah yang paling terang di rumah mungil ini. Dan yang menjadi favoritku adalah sofa dan meja tamu, membuatku merasa lebih santai saat belajar.

Namun, lagi-lagi, begitu aku melangkah ke ruang tamu, lagi-lagi pula hidungku mendapatkan sinyal buruk. Pasti Mali. Aku beringsut kesal, menghentak ke belakang dan mengadukannya pada ibu. Ibu segera memasang jilbabnya dan membuka pintu depan, memeriksa mengapa Mali tak jua beranjak dari depan rumah. Aku mengikuti ibu dan mengintai dari pintu. Dalam hati, berharap ibu mengusir Mali pergi dari depan rumah kami. Tapi tak mungkin ibu melakukan hal semacam itu. Toh buktinya ibu masih saja berbicara dengan lantunan suaranya yang lembut saat bertanya pada Mali.
“Ini Bu, jari-jari rodanya hancur, maklum sudah lama. Tadi Pak RT sudah belikan yang baru tapi roda yang lama keras sekali, ngga bisa lepas. Jdi belum bisa diganti.” Jawab Mali nyengir.
“Lepasnya jangan pakai tangan aja. Pakai obeng atau apa gitu.” Saran ibu.
“Udah dicoba Bu, tapi ngga mutar. Karatan soalnya.”
“Ngga dibawa ke bengkel aja?”
“Berat loh Bu. Lagian tadi pas magrib saya periksa bengkelnya sudah tutup.”
Ibu cukup lama bercakap-cakap dengan Mali hingga akhirnya ibu masuk rumah dan menyarankan kepadaku untuk belajar di kamar. Dengan sedikit kecewa aku memasuki kamar dan menggunakan meja belajar yang sebelumnya nyaris tak pernah kugunakan selain untuk meletakkan barang-barang. Dalam hati aku menggerutu, mengapa Mali harus memperbaiki roda gerobaknya di depan rumahku. Sementara itu, hujan semakin deras dan semakin deras.
***

“Nadia, bangun, Nak. Sebentar lagi subuh.” Kurasakan ibu membelai kepalaku lembut. Aku berusaha bangun walau kurasakan mataku begitu berat.
“Udah mau ke mesjid, Bu?” tanyaku sambil mengucek mata.
“Masih hujan, Nak. Kita solat subuh jamaah di rumah aja deh sepertinya.” Jawab ibu.
Kupasang kuat telingaku, memang, masih terdengar suara hujan menggelitik atap rumah walau tak sederas tadi malam. Lama sekali hujan mengguyur bumi. Tapi, itulah rahmat yang diturunkan Allah yang patut disyukuri.

Azan subuh berkumandang, aku dan ibu segera sholat berjamaah. Entah mengapa, setelah salam kedua, aku tiba-tiba teringat Mali. Belum lagi lepas mukenahku seusai sholat, aku beranjak ke ruang tamu, hidungku lagi-lagi mendapatkan sinyal. Kubuka sedikit tirai, dan kulihat ke luar. Rintik hujan masih turun dan gerobak Mali masih disana. Kukerinyitkan dahiku sekuat-kuatnya. Sadarkah Mali bahwa bebauan dari gerobak sampahnya itu bau? Atau hidungnya sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang bau dan mana yang wangi.

Ibu tiba-tiba datang, menepuk bahuku dan ikut mengintip keluar. Namun, benar-benar aneh, bukan umpatan yang keluar dari mulut ibu, sebagaimana yang kuucap berkali-kali dalam hatiku akan tukang sampah itu. Melainkan, “Subhanallah...”
Aku menganga heran, “Kenapa, Bu?”
Ibu mengangkat telunjuknya, menunjuk ke satu arah yang berlawanan dengan letak gerobak Mali. Aku mengikuti arahnya dan dengan mata kepalaku kulihat Mali sedang bersujud khusyu menghadapkan dirinya ke arah kiblat di aspal yang basah, dibawah deras hujan yang turun semalaman.

Hatiku seketika mengerucut. Ada hal yang tiba-tiba mengganjal kuat, membekaskan perasaan sesal, salut, dan simpati. Pantaskah semalam aku kesal pada Mali karena bebauan yang ditimbulkan gerobaknya? Bukan salahnya jika gerobak itu sudah reot, toh dia tidak mungkin punya uang untuk membeli yang baru. Lagipula, sebenarnya gerobak itu bukan hanya menjadi tanggung jawab Mali seorang, tapi tanggung jawab semua warga yang sampah di rumahnya dibantu dibuangkan oleh Mali. Namun selama ini, hanya Pak RT yang rutin memperhatikan keadaan Mali. Warga lain tampak acuh, hanya menikmati keringat Mali tanpa mau tahu apa saja yang dialaminya.

Aku terus memandang Mali, memandang gerakan-gerakan sholatnya yang tenang. Tangannya mulai ditengadahkan ke atas, begitu juga kepalanya tampak memandang gemuruh langit. Setelah itu ia beranjak dan kembali ke gerobaknya. Tampaknya roda lama telah berhasil dilepaskan dan ia mulai memasang roda baru. Pastilah perjuangannya semalaman begitu berat, menahan dingin dan hujan sementara ia harus mengerahkan seluruh energinya.
***

Seragamku talah terpakai rapi. Perutku pun telah hangat oleh segelas susu. Aku mengambil sepatu, memakainya dan melangkah keluar. Hujan telah reda, mentari pagi pun bersinar cerah. Di ujung langit tampak pelangi menggantung indah.
“Pergi sekolah, Neng?” suara parau terdengar menyapa.
Aku menoleh, melihat Mali tersenyum padaku. Seketika aku balas senyum dan menjawab, “Iya.”
Tampaknya Mali telah sukses mengganti roda gerobaknya.
“Kelas berapa, Neng? “ tanya Mali lagi.
“Masih kelas satu SMA.” Jawabku.
“Wah, beruntung Neng bisa sekolah. Rajin-rajin belajar, atuh. Kalau boleh tahu cita-citanya apa Neng?”
Aku sedikit risih, namun mengingat kejadian subuh tadi aku tetap menjawab dengan ramah, “Pengen jadi dokter, sih.” Dalam hati kutambahkan, kalau nantinya ibu punya uang cukup.
“Wah, bagus itu, Neng. Saya doakan cita-citanya tercapai ya, Neng. Kalau jadi mahasiswa kedokteran nanti jangan sombong sama saya.”
Aku tertawa kecil, dibuat-buat, sekedar basa basi, dan segera pamit pergi sebelum Mali menemukan pertanyaan baru yang dapat menahanku melangkah ke sekolah.
***

Itu terakhir kalinya. Ya, terakhir kalinya aku melihat Mali. Sejak pagi itu, Mali tidak pernah kembali untuk membereskan sampah lagi. Beberapa hari sampah di depan tiap pagar rumah menumpuk, menyebar bau tak sedap di sela-sela peruamahan. Warga hanya dapat mengumpat, menggunjing, atau ada juga yang berinisiatif melapor pada Pak RT. Sementara Mali tak kunjung tiba.
Entah kemana ia, sementara satupun warga tidak ada yang tahu tempat tinggalnya dimana. Hingga setelah dua minggu berlalu, Mali digantikan oleh orang lain. Tukang sampah yang baru, seorang wanita yang selalu mengumpat tiap bekerja.
***

Aku kembali membolak-balik buku Sobotta yang kupinjam dari perpustakaan sebelum memasuki ruang anatomi, tempat kadaver-kadaver terlelap menantikan siapa saja yang hendak mempelajari tubuhnya. Jas putih panjang untuk memasuki laboratorium berlambangkan Fakultas Kedokteran telah terpasang rapi ditubuhku.
“Nadia, ayo masuk.” Ajak Dila, teman sejawatku.
Aku berdiri, memasukkan Sobotta ke dalam tas dan kuraih handscone dari kantong jas laboratorium, lalu kulangkahkan kakiku memasuki ruang anatomi. Bau formalin seketika menyergap masuk ke hidungku. Ini yang kedua kalinya aku memasuki ruangan ini, setelah minggu lalu mengamati jantung yang telah dipisahkan dari tubuh empunyanya, entah milih siapa. Kali ini kami akan mempelajari susunan pembuluh darah. Karena itu, perlu mayat yang masih utuh organ-organnya dari kepala sampai kaki.

Setelah mendapat pengarahan, kami dibagi atas beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapatkan satu mayat. Aku dan kelompokku menghampiri mayat paling ujung, yang masih tertutup kain putih. Temanku segera menyibak kain tersebut sehingga terlihatlah tubuh yang bagian perutnya telah terbelah. Kulit-kulit dan ototnya telah dibuka sedemikian rupa sehingga terlihatlah pembuluh-pembuluh darah yang telah hitam.

Aku memperhatikan mayat itu dari ujung kakinya, terus naik, hingga sampai wajahnya. Tapi aneh, wajah ini rasanya tidak asing lagi. Seakan-akan aku mengenalnya. Terus kuperhatikan wajah itu, berpikir keras, benarkah aku pernah melihat wajah ini sebelumnya?

Seketika pikirku melintas kemasa lampau, ke masa dimana hujan lebat turun membasahi perumahan. Dimana bebauan busuk dari sebuah gerobak sampah memasuki ruang tamuku, menghambat beberapa aktivitas yang kerap kulakukan disana. Malam itu, seorang tukang sampah mengerahkan seluruh tenaganya memperbaiki gerobak tanpa satupun warga berinisiatif memberi bantuan. Hingga pagi menjelang, saat pelangi menggantung, beliau menyapaku, mendoakan agar cita-citaku tercapai dan berpesan, jangan sampai aku sombong padanya.

Aku terus memandang wajah itu. Kuingat lagi, betapa senagnya ketika aku bisa lulus di Fakultas Kedokteran dengan beasiswa penuh. Sedikitpun aku tidak ingat saat itu, akan siapa yang pernah mendoakanku. Bahkan aku tidak memikirkan, benarkah doa dan usahaku yang bukan apa-apa yang diijabah oleh Allah ataukah doa orang lain yang menghadapi hidupnya penuh keikhlasan.

Air mataku tiba-tiba menetes. Tubuhku tiba-tiba kaku, aku merunduk dalam, sementara teman-teman lain mulai sibuk mengamati letak-letak pembuluh darah dan mengacuhkan reaksiku. Sejenak aku tidak yakin ini adalah Mali. Setahuku di Indonesia, kalaupun ada mayat tanpa identitas akan dikuburkan dalam jangka waktu tujuh hari. Kecuali mayat orang yang sebelumnya mewasiatkan dirinya untuk dunia pendidikan atau keluarganya merelakan tubuh mayat tersebut diobrak-abrik.
Entahlah, aku tak habis pikir. Yang jelas, wajah di depanku ini seolah-olah sedang menyapaku dan menanyakan kabarku.
“Nadia, kenapa?” tanya Dila, sepertinya menangkap gelagat anehku.
Aku tersenyum dan menggeleng, lalu membual, “Ga tahan bau formalin,” dan kulangkahkan kakiku maju menuju Mali yang terlelap. Mulai kususuri pembuluh darahnya dengan hati-hati, karena begitulah harusnya orang yang selalu berjasa dan ikhlas sepanjang hidup bahkan matinya ini diperlakukan.

Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya kuat. Mali... lirihku. Tubuh itu kaku, tak menjawab, dan tak mungkin akan menjawab. Namun aku tahu, dari wajahnya yang kotor dan hitam, ia tersenyum tulus padaku, memaafkan karena aku lupa dan sombong padanya. Karena dihatinya selalu ada keikhlasan.
***

PROFIL PENULIS
Nama : Intan Ekaverta
Email : semangatmaroon@ymail.com
FB : https://www.facebook.com/verta.firebender

Mahasiswa tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang

Baca juga Cerpen Pendidikan dan Cerpen Islam yang lainnya.




Rabu, 14 November 2012

Pendakian Massal Singgalang

Catatan Unknown pada 10:00 AM 0 komentar

Postingan ini adalah tugas magang BROCA BEM KM FK UNAND. Hasil wawancara pengalaman menarik kakak BP saya, Bang Arifudin, yang diulas seperti cerpen :)

Geje sih, tapi ngga apa lah...

___________________________________________________________________
Pada Mei 2012 lalu, SDU (Swarna Dvipa Ungu), mahasiswa pecinta alam dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas, mengadakan kegiatan Pendakian Massal Singgalang. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa pecinta alam se-Sumatra Barat serta warga umum mulai dari yang muda-muda sampai bapak-bapak.
Pada kegiatan tersebut, HET (Hippocrates Emergency Team), salah satu unit kegiatam mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, diundang sebagai tim bantuan medis. Sebenarnya diminta sepuluh orang, namun HET hanya bisa mengutus enam orang karena berbagai pertimbangan. Diantara enam orang yang beruntung tersebut, salah satunya adalah Arifuddin, mahasiswa program studi Pendidikan Dokter angkatan 2010.
Siang sebelum berangkat, Arifuddin merasa pusing dan tidak enak badan. Bahkan ia muntah sampai sepuluh kali. Ia merasa tidak sanggup untuk mendaki gunung. Namun, setelah memngkonfirmasikan hal ini dengan rekan-rekan HET lainnya, ternyata tidak satupun ada yang bisa menggantikan Arifuddin. Akhirnya, Arifuddin terpaksa mengikuti pendakian tersebut walaupun dalam keadaan yang tidak stabil.
Sore itu juga Arifuddin dan delegasi HET lainnya berkumpul di Fakultas Peternakan Universitas Andalas bersama peserta pendakian massal Singgalang lainnya. Disana Arifuddin melihat bermacam-macam orang, ada yang gondrong, ada yang botak, dan berbagai jenis lainnya. Hal ini membuat semangat Arifuddin terpacu dan seketika ia melupakan rasa pusingnya mengingat ia akan berkenalan dengan orang-orang baru. Setelah itu, dengan senang hati Arifuddin bersama rombongan menuju gunung Singgalang menggunakan bus Universitas Andalas.
Sekitar jam 6 sore, rombongan sampai di lokasi. Para pandaki melakukan iklimatisasi, yakni penyesuaian paru dengan kadar oksigen yang rendah. Ketika itulah Arifuddin melihat Pak Tofrizal, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran. Arifuddin semakin bersemangat karena sebelumnya ia tidak menyangka ada dokter yang mau berpartisipasi dalam kegiatan seperti itu.
Setelah mendirikan tenda, Arifuddin dan delegasi HET lainnya beristirahat di dalam tenda. Saat itulah Pak Tofrizal datang dan berkata, “Saya boleh numpang disini ya, soalnya saya tidak bawa tenda. Tapi kalau ada apa-apa saya tidak ikut tim bantuan medis ya!”. Dengan senang hati dan penuh rasa kekeluargaan, para delegasi HET menerima Pak Tofrizal tidur di tenda bersama mereka. Arifuddin pun semakin bersemangat.
Paginya, rombongan mulai melakukan pendakian. Dengan tas punggung yang besar dan berat, panas yang menyengat, dan kondisi yang kurang memungkinkan, Arifuddin tetap mengikuti rombongan. Untunglah di gunung tersebut terdapat hutan-hutan, sehigga sengat matahari dapat dimimalisir dengan rimbun dedaunan.
Saat magrib tiba, rombongan telah sampai di Telaga Dewi. Panitia memutuskan untuk menginap disana. Arifuddin merasakan dingin yang sangat menusuk, sangat berbeda dengan siang tadi. Tenda pun diisi sepenuh-penuhnya agar udara terasa sedikit lebih hangat. Namun, bagi Arifuddin, itu adalah malam yang sangat indah karena malam itu dari ketinggian ia dapat menyaksikan supermoon dengan jelas tanpa ada awan yang menutupi.
Malampun berlalu, pagi kembali menyingsing. Semangat baru kembali berkobar dijiwa para pendaki. Panitia mengajak melanjutkan mendaki sampai ke puncak. Namun, Arifuddin tiba-tiba merasa mules dan terlebih dahulu harus memenuhi panggilan alam. Dengan berat hati, Arifuddin dan beberapa orang yang berhalangan untuk melanjutkan pendakian, terpaksa menunggu di Telaga Dewi.
Beberapa waktu setelah rombongan yang melanjutkan pendakian berangkat, hujan tiba-tiba turun. Rombongan yang tinggal di Telaga Dewi, termasuk Arifuddin, segera memasuki tenda sementara rombongan yang telah berangkat terpaksa berbasah-basahan. Karena merasa tidak enak, rombongan yang tinggal menyiapkan teh dan makanan untuk rombongan yang melanjutkan pendakian ketika mereka kembali.
Akhirnya, rombongan dari puncak kembali dan kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah. Masing-masing mapala memperkenalkan organisasi mereka.
Arifuddin merasa semua itu sangat berkesan. Ia merasa sangat kuat karena beberapa hari sebelumnya ia juga sempat mendaki Gunung Singgalang bersama teman-temannya. Apalagi mengingat kondisinya yang tidak begitu baik. Semua rentetan kejadian tersebut menjadi kenangan tak terlupakan dalam benaknya.
By: Intan Ekaverta (1210313070)
_________________________________________________________________________________

Kamis, 11 Oktober 2012

Shell Cottage

Catatan Unknown pada 11:25 AM 0 komentar
“Itu dia rumahnya. Sederhana memang, tapi kamu suka, kan???” Tante Ariana mendongakkan kepalanya keluar kaca mobil. Sementara Paman Dean menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercatkan putih mengkilap.
Kupandang rumah itu lekat sembari seorang pria jangkung setengah baya berkemeja hitam rapi menghampiri mobil. Tangan ringkihnya membukakan pintu jok kiri belakang mobil tepat disaping aku duduk sembari berkata, ”Selamat datang, Nona…”
Dengan pelan kuturunkan kakiku menginjak pasir yang berdesir setelah sekilas menatap mama yang mengangguk pasti padaku. Kutelusuri jalan menuju rumah aneh didepanku sambil menatap ke kiri dimana ombak sore pantai bersiul-siul menyambutku. Indah… namun, angin dingin tiba-tiba menyambarku, membuatku merasa dingin dan berusaha melupakan keindahan barusan. Kurapatkan dua sisi jaketku.
“Sebentar, nyonya,” lirih pria didepanku pelan seraya membuka kunci pintu. Pintu itu berwarna pasir berdaun dua. Tepat di bagian kanan atasnya tertra tulisan, SHELL COTTAGE.
“Shell Cottage?” balikku lirih menanyakan perihal tulisan itu.
“Ya, Shell Cottage, Nona. Itulah nama rumah ini. Sesuai dengan dekorasi rumahnya yang dipenuhi perabot kerang.” pria itu berhasil membuka pintu lebar dan perlahan melambaikan tangannya pertama-tama kearahku, lalu mengayunkannya ke dalam rumah itu, ”Silahkan, Nona!!!”
Kumasuki rumah itu dan kutatap dekorasinya yang unik. Penuh dengan perabot berbahan dasar kerang atau bermotif kerang, seperti gagang telepon dan sofa yang diselimuti kain bermotif kerang mutiara.
Kulangkahkan kakiku lebik dalam, tiba-tiba kakiku rasanya tak kuasa menopang berat badanku. Aku berpusing, nyaris jatuh jika saja tak berpegang pada ujung sofa yang lembut. Serentak mama dan Bibi Ariana menghampiriku, ”Shofia, kamu taka apa-apa?”
“Aku ingin istirahat,” jawabku singkat.
“Kamarmu diatas, ayo!” bibi Ariana menggenggam tanganku dan menopang punggungku membantuku menaiki tangga dengan karpet bermotif kerang dan pegangannya yang kasat seperti pasir pantai.
Bibi Ariana menunjuk sebuah tangga dari anak tangga paing atas. Kupercepat langkahku memasuki pintu itu lalu segera kututup sebeum Bibi Ariana menyusul masuk. Ia pasti mengerti bahwa ingin sendiri saat ini.
Kutatap kamar itu, tetap saja kerang, kerang, dan kerang. Lalu pandanganku tertuju pada sebuah cermin dengan bingkai tumpukan kerang. Kudekati cermin itu, kusentuh bingkai kasarnya dan kulihat wajahku yang menyedihkan didalamnya. Kulit dan bibir pucat, mata sayu, rambut tipis, dan pipi yang mengurus.

Lalu kulangkahkan kakiku ke jendela disebelahnya, jendela kayu yang ditepi-tepinya  terdapat rangkaian kerang putih. Dari sana kunikmati pemandangan pantai yang indah. Pohon-pohon kelapa, kapal menepi, pasir putih yang bercahaya, ombak yang riuh, kerang dan kepiting, disertai angin yang membuatku dingin. Disinilah, aku merasa menyatu dengan Shell Cottage,  tempat aku akan menghabiskan waktu bersama Paman Dean yang seorang dokter dan obat-obatannya yang hambar. Sambil terus bertanya, kapan aku mati dan mengakhiri leukemia yang merenggut umur enam belas tahunku.

Selasa, 09 Oktober 2012

Di atas Tanah Hitam

Catatan Unknown pada 8:56 AM 0 komentar


Tanah hitam terhampar 
jauh ke ujung dunia
Basah dan legam,
seakan hujan tiap waktu bertandang
Diantaranya 
hampa...
Hanya tergeletak 
sepotong dua potong ampas
Tanpa tumbuh 
satupun kehidupan
Kosong, 
ya... kosong
Tak berdaun 
padahal riuh kesuburan
Tak bernyawa 
padahal kaya kemuliaan
Dan disanalah 
kaki ini menapak
Mencari sepotong ranting
Untuk menanam 
kelopak-kelopak sakura 

Sabtu, 25 Agustus 2012

Kawan

Catatan Unknown pada 12:39 PM 0 komentar
Di bawah ini bukanlah puisi, tapi lirik sebuah lagu.
Dulunya, lagu ini menjadi yel-yel kelas di saat saya SMP kelas 1 dulu,,
Sungguh sangat menyentuh~


Kawan...
Jangan biarkan dirimu
Seperti rama-rama
Cantik...
Namun akhirnya
Menjadi perhiasan di dinding

Kawan...
Jangan biarkan dirimu
Seprti lipan dan kala
Berbisa...
Namun akhirnya
Menjadi perhiasan di meja tulis

Oh, kawan
Jadilah seperti si matahari
Membakar diri demi insan sejagat

Oh kawan
Jadilah seperti bulan purnama
Menerangi malam yang gelap gulita
Menunjukkan jalan
Demi insan semesta~

Selasa, 07 Agustus 2012

Aku dan Aku Menjadi

Catatan Unknown pada 11:46 AM 0 komentar


Pernah melihat matahari?
Sinarnya terang bukan?
Menyinari pagi hingga senja hari
Membantu penjuangan jiwa-jiwa yang berkarya di bumi

Hey, begitulah aku ingin hidup dengan segenap kemampuanku

Pernah melihat bulan?
Yang temaram dengan kekurangan
Tidak seperti matahari, ia kelam
Tak punya cahaya yang terang
Namun, bulan tak putus asa
Ia meminjam sinar matahari, karena matahari pun terbatas dalam menyinari sisi bumi
Lalu bulan beranjak kesisi gelap bumi dan memantulkan cahaya matahari
Hingga malam gulita pun mendapat secercah harapan
Mungkin tanpa lampu di bumi apalah pula artinya bulan
Tapi bulan memang tanpa makna
Selain menyalurkan cahaya, ia juga memberi ketenangan
Melelapkan jiwa diambang petang
Memberi istirahat pada pemimpi yang besar

Hey, begitu pulalah aku ingin hidup dengan segenap kekuranganku

Kini, lihatlah ke bumi

Lihat, disana ada pohon!
Jelas bukan?
Tapi, pernah memperhatikan akarnya?
Ya, akar...
Bukan daunnya, bukan bunganya, bukan pula buahnya
Tapi akar...
A-K-A-R
Yang tersembunyi dibawah tanah
Sedikit mencuat malu-malu ke atas
Akar benar-benar tidak ingin dilihat
Tidak ingin dikenal
Tidak ingin dipuja seperti cantiknya bunga
Tidak ingin digemari seperti manisnya buah
Dan dibalik persembunyiannya, akar terus berjuang
Mencari dan mencari, menyokong tegaknya pohon
Terkubur semakin dan semakin dalam
Namun, dengan giatnya, tumbuhlah cantiknya bunga itu
Manisnya buah itu
Yang dipuja dan digemari orang
Dan akar tak pernah iri pada bunga dan buah
Ia pun tak pernah muncul dan meneriaki orang-orang yang memuja bunga
Baginya cukuplah didalam sana
Mengais tulus yang dipersembahkan untuk seisi bumi

Hey, begitulah aku ingin hidup, tersembunyi, namun memberikan manfaat besar

Pernah melihat intan?
Ya, intan, bukan berlian
Berlian adalah intan yang telah dikikir sedemikian hingga dan memancarkan kilau kecantikan
Tapi intan belum tentu akan jadi berlian
Intan dulunya tertanam jauh berkilo-kilo meter di bawah permukaan bumi
Terhimpit tekanan kuat dan panas membara lava gunung api
Terus ditekan dan dibakar
Oh, iya, pernah mencicipi ayam presto?
Sama bukan, ayam presto itu dibuat dengan penekanan dan pemanasan
Tapi alangkah sedihnya, ia malah menjadi lunak, tulang-tulangnya yang keraspun rapuh
Tidak begitu dengan intan
Himpitan dan pemanasan justru membuatnya keras
Semakin dan semakin keras
Bahkan lebih keras dari baja
Hingga akhirnya keluar ke permukaan bumi

Hey, begitulah aku ingin hidup, bertahan diantara tekanan

Jika masih bertanya siapa aku, lihatlah lagi matahari, bulan, akar, dan intan
Lalu, kau pun pasti kan ragu, sesempurna itukah aku?

Tidak, ya, tidak!!!
Sepuluh persen dari matahari, bulan, akar, dan intan pun aku tidak

Lalu?

Siapa aku?

Ya, aku hanya setitik debu 
yang tidak bersinar namun ingin menjadi seterang matahari
yang tidak indah namun ingin menjadi sedamai bulan
yang tidak murni namun ingin menjadi setulus akar
yang tidak berkilau namun ingin menjadi sekuat intan

Dan jika kau sangka aku debu yang berterbangan dan memedihkan matamu
Bukan, bukan pula aku!!!

Karena biar aku debu, aku akan berjuang, berusaha sepenuh energiku
Untuk memberi yang seperti matahari, bulan, akar, dan intan berikan~

~Ditulis dengan tinta harapan, Padang, penghujung Oktober yang penuh kesibukan~
 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation