Sedikit curhat tentang asam-manis menjadi pemakai angkutan umum...
Masih terngiang hebohnya demo supir angkot Kota Padang saat BBM naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 7.500 18 November lalu. Penumpang yang masih di atas angkot DIPAKSA turun lantaran supir hendak ikut demo. Untungnya saat itu saya tidak kemana-mana. Namun mendengar cerita dari beberapa junior yang mengikuti perkuliahan di kampus Unand Limau Manis dan setelahnya harus kembali ke kampus Unand Jati, miris sekali. Padahal dalam satu angkot itu isinya 'mereka' semua, angkatan 2013 FK Unand yang hendak menuju Jati. Namun di tengah jalan mereka diturunkan begitu saja. Awalnya mereka tidak mau turun, namun kemudian Si Supir Angkot menggoyang-goyangkan angkotnya dari luar sehingga junior-junior saya tersebut cemas dan terpaksa turun.
Jelas sekali bahwa supir angkot bukanlah tenaga profesional. Supir angkot tidak mendapat pelatihan terkait melayani. Bukan sedikit angkot yang 'sembarang laju'. Bawa mobil seperti orang mabuk. Belum lagi musik di dalam angkot yang kerap memekakkan telinga. Tak hanya itu, bukan hanya sekali saya temui supir angkot yang sudah jalan walau penumpangnya belum duduk dengan baik. Risiko kecelakaannya tinggi, tingkat kecemasan penumpang juga jadi tinggi. Belum lagi supir angkot itu kebanyakan ngomongnya kasar dan sering mencarut. Sangat tidak bermoral.