Rabu, 11 Februari 2015

Rindu

Catatan Unknown pada 6:57 PM 0 komentar
Rindu, aku merasa...

Aku duduk disini, di sudut kebekuan. Melihat kearahmu, tapi pura-pura tak melihat. Dan kau tak menggubrisku karena aku seperti biasa, tak ada gerak-gerik hendak mendekat. Menyapapun, aku sepertinya tak mau.

Aah... tapi... rindu, aku merasa...

Asal kau tahu, hatiku telah berbusa. Penuh buih, ingin sekali kau menghampiri. Atau bisa jadi, aku yang menghampiri. Tapi aku tak bisa. Melangkah, barang selangkah.

Dan rindu, aku merasa...

Sabtu, 22 November 2014

Tentang Puisi

Catatan Unknown pada 9:49 AM 0 komentar
Dulu suka iseng ke perpustakaan atau ke gramedia, mencari buku-buku kumpulan puisi. Kini semua bisa diakses dari internet. Iseng-iseng mencari profil beberapa sastrawan, jadi tertarik berbagi beberapa puisi yang meluluhkan hati saya.

Check it out!

Yang pertama, adalah puisi yang sebenarnya entah siapalah penulisnya. Puisi didapatkan dari film yang hitz pada tahun 2002, yang tahun ini kembali di-up oleh Line Indonesia, Ada Apa dengan Cinta. Yang paling saya suka adalah puisi yang difilnya ditulis oleh Rangga dengan judul TENTANG SESEORANG.
Namun, yang membuat terkagum-kagum adalah ketika Dian Sastro membacakan puisi itu, penuh emosi namun datar, membuat puisinya benar-benar berarti.

Minggu, 22 Juni 2014

Pengecut

Catatan Unknown pada 11:18 AM 0 komentar
*Sebuah cerpen

Aku tak pernah tahu berapa banyak kini yang mereka percayakan padaku. Yang kurasakan, tiap aku bicara, tiap aku memimpin, aku menjadi orang paling lemah diantara semua yang ada. Aku merasa rapuh, seakan-akan aku adalah pilihan yang salah. Aku merasa tak pantas ada disana dan ingin hilang saja ditelan bumi. Aku takut mengambil keputusan, aku takut membuat gebrakan besar, aku seperti onggok daging yang siap dihina karena kesalahan. 
Ya, aku pengecut. 

Pengecut yang tak tahu diri dan berani berdiri di depan. Dan benar-benar tanpa persiapan.

Andai mereka tahu, aku hanya debu yang peduli pada diriku sendiri. Aku hanya orang yang mebayangkan suatu hari aku bisa menjadi terkenal. Aku hanya manusia dengan pikiran sempit yang mempunyai mimpi untuk diriku sendiri. Aku tak pernah peduli pada yang lain. Pada temanku, apalagi umat. Dan kini, mereka menugasiku untuk memikirkan yang lain, memikirkan tangan-tangan kewenangan yang semena-mena, memikirkan jiwa yang tersudut di pojok nista, memikirkan kupu-kupu beterbangan yang tak tak tahu arah.

Adakah mereka mengerti, aku merasa minder. Minder pada orang-orang yang hatinya memang untuk umat. Minder pada orang-orang yang tulus bekerja untuk orang lain. Minder pada orang-orang yang niatnya semata-mata karena Allah.

Ya, aku rapuh...

Rapuh karena lemah, lemah karena aku begitu picik.

Aku ingin berteriak, "Jangan aku! Semua akan hancur karenaku." Tapi mereka bilang semua itu jadikan saja cambuk untukku.

Aah, benar-benar cambuk. Cambuk yang membuatku perih begitu perih. Cambuk yang melukai seluruh jiwaku. Cambuk yang menghukumku karena baru diawal, aku sudah melakukan KESALAHAN BESAR. Ya, aku tercambuk.

Kini apa? Aku sudah salah melangkah, aku sudah gagal merencanakan, aku benar-benar ingin hilang! Tak ingin ada yang melihatku berjalan. Aku tak mau terlihat oleh mereka yang jauh lebih kuat dari pada aku. Yang lebih pantas mengemban semua ini. Mereka yang lebih baik perencanaannya dan jauh dari kesalahan.

Aku menyesal, kenapa tidak dari awal aku menolahnya.

Aku pengecut!

Selasa, 10 April 2012

Jalan Buntu

Catatan Unknown pada 10:47 PM 0 komentar
Aku terhenti pada altar hatiku yang bisu
Kaki yang sejak tadi menapak  tak kuasa melangkah lagi
Bibirku pun bergumam sibuk bertanya pada kepala
Tapi kepala diam…
Justru mengisyaratkan tangan agar mengais-ngais bata
Berharap cakarnya mampu memberi jawaban
Namun mataku tak pernah percaya pada tangan
Dua bolanya hanya memandang kosong
Dan kakiku hanya memaki-maki mataku
Jiwaku resah, sungguh konflik 
ini menyembunyikan pintu keluar
Ya,
Jalan di depan… buntu
 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation