Selasa, 21 April 2015

Forum Studi Kedokteran Islam

Catatan Unknown pada 12:46 PM 1 komentar
Sekitar tiga minggu yang lalu, ada perasaan senang dihati karena amanah sebagai Kepala Departemen DAWA' di Forum Study Kedokteran Islam akan segera usai. Mubes akan dilaksanakan dan jabatan akan berganti tangan. Tentunya tanggung jawab yang selama ini membebankan segenap raga akan berkurang. Kemudian fokus dapat berganti ke akademik, peningkatan nilai ditahun akhir dan pengerjaan skripsi.

Hari bergulir, tibalah saatnya pembacaan LPJ DAWA'. Disanalah kemudian saya menjelaskan bagaimana kerja Departemen DAWA' dalam setahun ini. Membacakan hasil evaluasi keseluruhan dan mepresentasikan seluruh pertanggungjawaban. Kemudian, kritik dan masukan disampaikan oleh peserta sidang lainnya. Beberapa menit, sampailah pada penyampaian closing statement. Dan disinilah, entah kenapa rasa gembira itu tiba-tiba berubah.

Jumat, 12 Desember 2014

Dandan dan Islamic 21, Mengungkap Tabir Kecantikan Wanita dan Peradaban Islam di Eropa

Catatan Unknown pada 9:10 PM 0 komentar

Minggu, 7 Desember 2014 masih dalam rangkaian acara IMF 2014 diadakan DANDAN (Dauroh  ini dari Keputrian) dan Islamic 21 di Gedung I FK Unand. Dandan yang dimulai pukul 08.30 mengusung tema “Get Beauty and Healthy in Islam: Mengungkap Tabir Kecantikan Muslimah” deperuntukkan bagi muslimah. Dalam acara tersebut dihadirkan dua pemateri luar biasa, dr. Ennesta Asri, Sp.KK (dokter spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin) dan Ustadzah Neneng (ahli kosmetik). Acara dibuka oleh Wakil Dekan III FK Unand. Lalu dimulai dengan penyampaian materi oleh pemateri serta talkshow yang  dilanjutkan dengan Beauty Class.
Pada acara DANDAN, dibahas tentang kesehatan kulit, manfaat hijab dan wudhu terhadap kulit, pemakaian kosmetik yang sehat, hukum memakai kosmetik bagi kaum hawa, serta pengenalan kosmetik yang kerap digunakan sehari-hari. Peserta yang memenuhi Gedung I tampak antusias mendengarkan materi. Diakhir acara, diumumkan pemenang dari IMF Mencari Bakat serta penampilan dari tiap pemenang.
Masih di Gedung I, pada pukul 13.35, peserta ikhwan mulai tampak memenuhi ruangan. Rangkaian acara dilanjutkan dengan Islamic 21, nonton bareng film 99 Cahaya di Negri Eropa, film yang merupakan adaptasi dari  novel yang ditulis oleh Hanum Salsabila. Acara dibuka dan dipandu oleh Abdul Rahman (Pendidikan Dokter 2012) . Peserta yang datang dibekali dengan segelas minuman dan pop corn oleh panitia.

Senin, 08 Desember 2014

Beralih Pada Syiar Kampus yang Lebih Efektif

Catatan Unknown pada 11:56 AM 0 komentar
Syiar merupakan upaya untuk memperkenalkan berbagai hal dalam Islam kepada umat Islam sendiri yang pada kenyataannya masih minim pengetahuannya terhadap agama Islam maupun pada umat bukan Islam. Syiar mempunyai posisi dalam mengubah masyarakat umum menjadi masyarakat semi-afiliasi kepada Islam. Syiar itu bukan sesuatu yang kaku, namun dinamis, dapat berubah sesuai kebutuhan dan kondisi.

Di Forum Studi Kedokteran Islam KM FK Unand, kita mengenal syiar-syiar berbasis event. Ceriwis, Perikarditis, Bedah Shirah, Medis Praktis, dan lainnya. Banyaknya agenda event cukup alot membuat beberapa departemen harus saling mengalah dalam penyusunan time schedule global. Bahkan terkadang beberapa event tidak jadi dilakukan karena adanya event dari departemen lain.


Event bersifat syiar di FSKI kebanyakan dilaksanakan setiap blok. Waktu yang dipakai biasanya sore, sekitar jam setengah lima sampai menjelang maghrib. Untuk mengangkatkan event ini tidak pula semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perizinan yang jelas dari dekanat, pencarian gedung yang harus rutin difollow up, belum lagi acara-acara tandingan dari UKM lain yang jauh lebih menarik, pencarian pemateri, waktu yang juga harus disesuaikan dengan sedemikian rupa, dan banyak lagi tantangan-tantangan dalam mengangkatkan event ini.

Senin, 14 Oktober 2013

Save Egypt, Dimana Nurani?

Catatan Unknown pada 11:30 PM 0 komentar
Salah satu tulisan yang umat Muslim wajib baca!!!

Tentunya bukan hal asing lagi ditelinga kita tentang prahara yang menimpa saudara-saudara kita di Mesir. Kebetulan, saya mendapat sebuah tulisankeren dari selebaran yang dibagikan di kampus. Jadi, mengapa kita harus capek-capek menyuarakan keadilan di negara orang??? Mengapa kita harus ikut-ikutan mengurusi negeri orang padahal negri sendiri saja masih hancur seperti sekarang?

Check it out! You'll fill the 'shock'!!






Rabu, 09 November 2011

Saat Beban Terasa Begitu Berat

Catatan Unknown pada 11:09 PM 0 komentar

Kehidupan itu bagai sebuah perjalanan panjang. Bukan lurus saja yang akan ditemui, tapi juga bengkolan dan hambatan. Terkadang, di tengahnya ada lubang yang dalam. Tak ayal jika kita sesekali tersandung. Adapula kita temui jalan buntu, sehingga kaki selangkah harus mundur dan berpikir keras mencari jalan lain. Begitulah, kehidupan bukan apa yang disepanjangnya hanya ada suka, tapi juga beban. Bisa jadi coba, bisa jadi amanah, bisa jadi dera.

Ya, beban. Tiap orang diberi beban masing-masing dalam kehidupannya. Bedanya, ada yang diberi beban lebih ringan dan adapula yang diberi beban lebih berat.

Terkadang kita merasa beban yang kita emban jauh lebih berat dari orang lain. Sebenarnya itu ungkapan yang salah. Hanya dalam pandangan kita saja bahwa beban orang lain itu lebih ringan. Padahal, berat beban orang lain itu baginya dan berat beban kita bagi kita sendiri adalah sama.

Jjika diibaratkan beras, kita dibebani memikul 5kg beras, sementara orang lain hanya 2kg beras. Bukan berarti beban yang kita rasakan lebih berat dari pada orang tersebut. BUKAN! Melainkan orang tersebut hanya mampu memikul 2kg. Tidak seperti kita yang mampu memikul 5kg.

Mengapa?

Dalam surat Al-baqoroh ayat 287, Allah berfirman, "Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan batas kemampuannya..."

Karena itulah, beban kita masing-masing telah diimbangi dengan kemampuan kita masing-masing pula. Jika orang lain diberi beban hanya 2kg, berarti segitulah kemampuannya, sementara kita yang dibebani 5kg punya kemampuan yang juga lebih. Begitulah Allah bersikap adil pada hamba-Nya. Yang diberi kekuatan lebih diberi pula beban lebih, dan sebaliknya.

Maka, masihkah kita akan bertanya-tanya tentang beban yang kini kita pikul? Bukankah semakin berat beban kita artinya semakin besar pula kemampuan dan karunia yang diberikan pada kita? Bukankah itu berarti Ia masih mencintai dan mengingat kita?

Sekali lagi, seberat apapun beban yang diberikan kepada kita, tak akan pernah dibebankan kepada kita, kecuali kita telah diberi kesanggupan untuk memikul beban tersebut sebelumnya. 

 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation