Jumat, 06 Maret 2015

Skripsweet

Catatan Unknown pada 10:17 AM 0 komentar
Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin melihat pengumuman kelulusan di Pendidikan Dokter Universitas Andalas. Eh, sekarang sudah memasuki tahun ketiga. Jika tahun pertama diiringi oleh MKWU, dan tahun kedua dibarengi dengan kegiatan sosial bernama FOME, maka tahun ketiga muncul stressor yang lumayan, wah! SKRIPSI!

Stressor!?

Ya, bagi sebagian orang mungkin menulis ilmiah seperti itu adalah kesenangan. Tapi bagi kebanyakan orang, dan bagi saya, yang lebih suka menulis fiksi dan diary, penulisan ilmiah seperti skripsi adalah hal yang cukup 'menguras otak'. Jangankan menyusun bab-bab nantinya, memikirkan judul saja butuh 2 bulan bagi saya.
Dimulai dari mengajukan judul terkait penyakit dalam, tapi apa daya ditolak. Akhirnya, karena mengikuti saran teman, saya ambil bidang psikiatri tanpa terlebih dahulu memikirkan judul yang akan saya buat. Dan, beginilah! Pembimbing satu dan dua sudah saya dapatkan lebih dari 2 bulan yang lalu, tapi baru 3 hari yang lalu saya mendapatkan inspirasi judul yang saya pikir menarik. Hanya saja, ketika saya kemudian menemui pembimbing satu saya, beliau hanya bilang, "Coba kamu pikirkan dulu apa tujuan dari judul ini. Kemudian baru kamu kembangkan judulnya."

Rabu, 14 Januari 2015

Pelayanan di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi

Catatan Unknown pada 9:32 PM 0 komentar
Alhamdulillah, libur semester membuat sebuah kesempatan bagi saya untuk mengunjungi Rumah Sakit Raden Mataher Jambi. Kunjungan ini dalam rangka menemani Bundo saya berobat ke bagian THT karena sinusitisnya yang menjadi-jadi.

Sebelumnya, Rumah Sakit Raden Mataher merupakan rumah sakit pendidikan yang ada di Jambi, menaungi Prodi Pendidikan Dokter di Universitas Jambi. Para koas dapat kita temui disana.

Setelah mengurus BPJS,  kami mengantri di depan Poli THT. Tidak lama, hingga akhirnya nama Bundo dipanggil untuk memasuki ruangan pemeriksaan. Sebelum bertemu dokter, keluhan yang dirasakan dianamnesis oleh perawat. Tidak seperti perawat yang pernah saya temui di salah satu Rumah Sakit di kota dimana saya belajar ilmu kedokteran, perawat disini ramah dan asyik diajak bicara. Padahal beberapa bulan lalu, saat kakak dari Bundo saya sakit dan diobati di salah satu rumah sakit di Padang, perawatnya jutek minta ampun.

Rabu, 10 Desember 2014

Manfaat Hijab dari Segi Kesehatan

Catatan Unknown pada 8:42 AM 0 komentar
 Hijab dalam bahasa Arab, حجاب yang artinya penghalang. Dalam konteksnya, kata-kata hijab dapat digunakan untuk pembatas shaf sholat antara laki-laki dan perempuan, pembatas interaksi, ataupun pakaian. Sekarang, tentunya bukan asing lagi kita dengar kata-kata 'hijab syar'i' di dalam dunia fashion. Hijab syar'i itu sendiri merupakan pakaian yang memenuhi 8 syarat hijab, antara lain:

Senin, 08 Desember 2014

Beralih Pada Syiar Kampus yang Lebih Efektif

Catatan Unknown pada 11:56 AM 0 komentar
Syiar merupakan upaya untuk memperkenalkan berbagai hal dalam Islam kepada umat Islam sendiri yang pada kenyataannya masih minim pengetahuannya terhadap agama Islam maupun pada umat bukan Islam. Syiar mempunyai posisi dalam mengubah masyarakat umum menjadi masyarakat semi-afiliasi kepada Islam. Syiar itu bukan sesuatu yang kaku, namun dinamis, dapat berubah sesuai kebutuhan dan kondisi.

Di Forum Studi Kedokteran Islam KM FK Unand, kita mengenal syiar-syiar berbasis event. Ceriwis, Perikarditis, Bedah Shirah, Medis Praktis, dan lainnya. Banyaknya agenda event cukup alot membuat beberapa departemen harus saling mengalah dalam penyusunan time schedule global. Bahkan terkadang beberapa event tidak jadi dilakukan karena adanya event dari departemen lain.


Event bersifat syiar di FSKI kebanyakan dilaksanakan setiap blok. Waktu yang dipakai biasanya sore, sekitar jam setengah lima sampai menjelang maghrib. Untuk mengangkatkan event ini tidak pula semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perizinan yang jelas dari dekanat, pencarian gedung yang harus rutin difollow up, belum lagi acara-acara tandingan dari UKM lain yang jauh lebih menarik, pencarian pemateri, waktu yang juga harus disesuaikan dengan sedemikian rupa, dan banyak lagi tantangan-tantangan dalam mengangkatkan event ini.

Selasa, 11 November 2014

Tonsilitis

Catatan Unknown pada 6:11 AM 0 komentar
Tonsilitis atau yang dalam bahasa awam lebih dekenal dengan penyakit amandel merupakan peradangan yang terjadi pada tonsil. Tonsil sendiri adalah kumpulan jaringan limfoid yang berada di belakang rongga mulut. Tonsil palatina, tonsil lingual, dan tonsil adenoid membentuk lingkaran yang disebut cincin waldayer. Yang kerap mengalami tonsilitis adalah tonsil palatina.
Dalam praktek kedokteran, tonsilitis merupakan penyakit yang sering sekali dijumpai. Sebenarnya merupakan penyakit yang ringan dan dapat sembuh dengan antibiotik. Namun, jika tidak dijaga agar tidak meradang, dapat berkomplikasi juga ke abses peritonsil, abses parafaring, demam reumatik, dan glomerulonefritis akut. Jika tonsil yang membesar menghambat jalan nafas, maka pasien akan mengalami sleep apnea, atau kesulitan bernapas ketika tidur. Jika mengalami sleep apnea maka disarankan untuk operasi. Karena jika terjadi terus-menerus, dapat mengganggu siklus tidur dan mengganggu jalan udara ke otak.

Kamis, 28 November 2013

Sakit Akut dan Kronik

Catatan Unknown pada 7:38 AM 0 komentar
Dalam cerpen-cerpen, novel-novel, dan kehidupan sehari-hari, seringkali saya temui penggunaan yang salah untuk kata akut dan kronik ini. Umumnya dua kata ini diindikasikan untuk penyakit yang sudah parah oleh orang awam. Padahal belum tentu juga semua penyakit akut ataupun kronik digunakan dalam penyakit-penyakit yang sudah diambang kematian.
Nah, apa itu akut dan kronik?

Menurut KBBI:
akut a 1 timbul secara mendadak dan cepat memburuk (tt penyakit); 2 memerlukan pemecahan segera; mendesak (tt keadaan atau hal); gawat: penyediaan air bersih menjadi masalah yg --; 3 kurang dr 90o (tt sudut): sudut -- 
kro·nik n catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yg berhubungan dng waktu 
Nah, dari KBBI dapat disimpulkan, bahwa akut maupun kronik bukan berarti parah. Akut merupakan penyakit yang progressnya cepat. Bisa jadi timbul mendadak, gejala berat, namun sembuhnya juga cepat. Atau jika penyakit tersebut parah, kemungkinan meninggalnya lebih cepat.

Sementara kronik, merupakan penyakit yang perlahan-lahan, bisa jadi tidak diketahui kapan mulai sakitnya karena gejalanya dimulai dari gejala yang sangat ringan dan sering diabaikan, namun perlahan-lahan perjalanan penyakit, gejala akan semakin berat. Sembuhnya lama, dan jika parah, proses kematiannya juga lama.

Jadi, jangan salah-salah dalam menggunakan dua kata ini, ya :)

Minggu, 03 November 2013

Ketika Sedikit Nikmat Dicabut dan Diganti

Catatan Unknown pada 5:29 PM 0 komentar
Suatu Sabtu yang cerah, setelah begadang semalaman mengerjakan beberapa amanah kecil. 

Pagi itu rencananya aku dan dua teman sekontrakanku, Alifa dan Dya, berencana mengisi pagi dengan berenang ke Azkia Swimming Pool. Namun, alangkah malangnya kami semua sama-sama tertidur pagi itu. Rencana batal. Sebagai gantinya, aku dan Dya memutuskan untuk membeli bacaan kecil di Gramedia, sementara Alifa memiliki amanah lain di kampus. Setelah menghabiskan tiga jam di Gramedia, aku menemani Dya memperbaiki gagang kacamatanya di optik. Lalu kami berpisah, Dya pulang, sementara aku pergi menghadiri acara baralek dengan beberapa orang senior di Air Tawar.

Di lokasi pesta, aku melirik sebuah makanan yang terlihat seperti ayam teriyaki. Otomatis mata rakusku langsung tertarik dan mengambil dua potong ke piring. Ternyata, itu bukan ayam! Melainkan ikan laut. Aku tak tahu pasti itu ikan apa. Sejenak aku ingat bahwa aku alergi pada tongkol. Namun karena sudah terlanjur diambil, kuputuskan untuk memakannya saja. Toh setelah satu jam kurasakan tubuhku tidak mengalami apa-apa (biasanya sejam setelah makan tongkol akan takikardi dan merah-merah). Berarti ikan yang tadi bukan tongkol. Tapi, berhubung sebelum ke gramedia aku sudah terlebih dahulu makan dengan Dya, jadinya makanan saat baraleh bersisa dan terbuang sia-sia. Kekenyagan~


Setelah pergi baralek, aku menghadiri sebuah pengajian di Jln. Khatib Sulaiman. Kemudian, aku dan teman-teman pengajian menyebarkan leaflet keagamaan di rumah-rumah warga di Air Tawar. Saat itulah aku mulai merasa badanku tidak berkompromi. Menyusuri jalan Padang di siang menjelang sore, membuat kepalaku mulai lain rasanya. Ditambah lagi aku saat itu mengenakan sepatu teplek wanita (biasanya selalu pakai sepatu kets atau sepatu karet). Jujur saja, sepatu itu sudah lima bulan lalu dibeli, tapi baru sekali ini dipakai. 

Kakiku kurang feminim agaknya sehingga setiap mengenakan sepatu teplek, akan muncul kapalan-kapalan di ujung-ujung telapak kaki. Mulailah jari-jariku terasa sakit. Ketika sholat Ashar dan membuka sepatu+kaus kaki, kulihat sudah muncul beberapa kapalan. Tapi kubiarkan saja. Setelah Ashar semakin gencar aku dan teman-teman membagikan leaflet. Namun semakin gencar pula tubuhku menjadi letih.

Akhirnya sore menjelang. Akupun duduk di kedai untuk meminum secangkir teh (yang ludes hanya dalam satu menit), kemudian menemani salah seorang teman ke Basco Grand Mall untuk melihat-lihat sepatu. Namun rasanya aku sudah tak tahan lagi. Kuajak ia pulang, dan kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Disepanjang jalan ke kontrakan, tubuhku mulai kedinginan. Kepalaku rasanya berat sekali. Mataku berkunang-kunang, jalan di depanku seakan-akan sedang menari hawaii menyambut langkah kedatanganku. Kupercepat langkah pulang. Sesampainya di rumah segera kubaringkan tubuhku di kasur dan kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.

Alifa dan Dya yang sudah di rumah sejak tadi keheranan melihatku. Aku yang tadi pagi notabene sehar walafiat tiba-tiba menggigil dan tak berdaya (hehee...). Begitu juga senior yang sekamar denganku, Kak Rina, mulai bertanya-tanya dan mengajakku ke dokter. Alifa yang cerewat (^^v) berkali-kali memaksaku makan, minum obat, dan minum air putih. Namun aku sungguh-sungguh hanya ingin tidur. Sehingga perhatian Alifa yang tulus seolah-olah menyebalkan bagiku. (Tapi terimakasih ya, Alifa. Wkwkwk)

Sebenarnya, sejak seminggu lalu aku memang merasa sering sakit kepala dan ingin tidur. Tapi tidak sampai kedinginan seperti ini. Kalaupun meriang, tapi tidak sampai mengganggu aktivitas.

Malam pun berlalu. Tengah malam aku terbangun dan ingat akan beberapa amanah yang harus kukerjakan. Masih dingin rasanya, tapi kepalaku tidak lagi sakit. Segera kuambil laptop ke dekatku dan kukerjakan beberapa hal ringan yang kurasa aku sanggup mengerjakannya. Setelah selesai, aku tidur kembali hingga pagi.

Alangkah malangnya, setelah subuh aku kembali sakit kepala dan kedinginan. Aku kembali meringkuk dalam selimutku. Alifa berkali-kali menyuruh makan dan minum, namun rasanya aku mual. Mual sekali. Bahkan seluruh isi perutku seakan-akan sedang menyanyikan, I like to move it move it sambil menari-mari. Akhirnya aku minta dibelikan roti yang manis.

Alifa pun pergi untuk rapat di kampus. Kemudian ia pulang dan membaca sebungkus roti. Aku mulai makan, perlahan-lahan melawan perutku yang masih saja mual hingga habis sepertiganya. Lalu aku pun tidur hingga sore.

Ketika orangtuaku menelpon, tak dapat kusembunyikan suaraku yang lemas. Kuceritakan bahwa aku sedang sakit, tapi sudah enakan sekarang. Hanya saja, orangtuaku cemas duluan dan menyuruh-nyuruh untuk memeriksakan diri.

Akhirnya kuturuti perintah itu, sekedar agar keduaorangtuaku tidak cemas lagi. Aku minta Kak Rina menemaniku ke rumah sakit C, salah satu rumah sakit swasta di Kota Padang. Kami disambut baik dan aku langsung diperiksa. Dokter yang bersangkutan basa-basi bertanya-tanya (sebelum anamnesis) tentang diriku. Ternyata dokternya dulu juga merupakan mahasiswa Kedokteran UNAND (sama denganku). Setelah tahu aku pernah malaria, beliau menyarankan untuk memeriksa darah. Tidak perlu terlalu lama menunggu, hasil pemeriksaan keluar, tertera dalam sebuah kertas putih di dalam amplop yang sebelum diberikan ke dokter, aku baca dulu isinya. Semuanya normal, paling hematokritku agak tinggi sedikit, tapi trombositku normal. Artinya, tidak malaria, tidak DBD.

Kemudian aku dan Kak Rina kembali ke ruang dokter. Ternyata Sang Dokter malah menyuruhku membaca sendiri hasil tes darahku, mengingat aku mahasiswa kedokteran. Saat itu aku yang dari tadi murung mulai merasa baikan dan tersenyum. Dokter mengajak sedikit bicara, bertanya-tanya tetang dosen dan teman seangkatan. Kemudian, diakhir cerita, dokter mulai meresepkan obat, aku diberi tiga obat. Satu vitamin, satu penurun panas, dan satu lagi penurun asam lambung (padahal aku tidak maag).

Beliau sempat berujar, bahwa asam lambungku naik. Ini pernah terjadi juga sebelumnya saat aku hendak Ujian Nasional saat SMA. Mungkin Si Dokter menganggapku stress, berhubung juga saat itu dekat dengan jadwal ujian blok.

Yang paling berkesan adalah nasihat lucu Sang Dokter sebelum aku pamit pulang, "Jangan stress kuliah dikedokteran. Ntar bakal lulus juga, kok." Dalam hati ingin rasanya tertawa. Aku sama sekali tidak stress. Toh selama ini belajarpun jarang. Aku melewati ujian dengan santai walau persiapan tidak pernah maksimal, bahkan minimal. Paling kalau nilai rendah nyesal dikit, terus main-main lagi. Tapi, entah mengapa ada sedikit motivasi dihatiku untuk memperbaiki semuanya di blok depan.

Kenyataannya saat ini, masih main-main~

Ujung-ujungnya aku merasa begitu sehat dan malas mengambil obat di apotik (mending uangnya buat jajan gorengan ^_^). Kemudian membayar biaya pengobatan sekitar 180ribuan. Setelah pulang, aku pun langsung tidur dan keesokan paginya (walau masih lemas rasanya) aku kembali menjalani aktivitas sebagaimana mestinya.

Aku pun hingga saat ini bingung, haruskah merasa untung atau rugi. Disatu sisi aku senang karena ternyata tidak sakit apa-apa, mungkin hanya lelah. Disisi lain sedih juga, ngapain mahal-mahal bayar 180ribu toh ternyata besoknya sembuh juga tanpa minum obat. Mending beli baju kali ya. Yang jelas, aku bersyukur kembali diberi kesehatan untuk beraktivitas.

Nikmat yang dicabut:

  1. Nikmat sehat
  2. Nikmat uang 180ribu
  3. Nikmat waktu (harusnya bisa ngapa2in malah jadi musti tidur)
  4. Nikmat bahagia
Nikmat yang diberi:
  1. Nikmat beristirahat~
  2. Nikmat motivasi
  3. Nikmat syukur (masih hidup, sakit ringan)
  4. Nikmat ukhuwah >,<

Terinspirasi dari sebuah blog milik seorang senior yang menceritakan kisah beliau yang menemani juniornya yang cantik (baca: Intan Ekaverta) ke sebuah rumah sakit swasta.

Senin, 14 Oktober 2013

Az-Zahrawi, Bapak Ilmu Bedah Modern Dunia

Catatan Unknown pada 1:04 PM 0 komentar

750 M – 1258 M, para filusuf, insinyur, dan ilmuwan Islam menyumbangkan banyak kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satunya dalam bidang kedokteran. Para ilmuwan Islam mempelajari naskah-naskah kedokteran Yunani karya Gallen dan Hippocrates
yang saat itu dipandang jelek di Eropa, kemudian mengembangkannya sehingga terbentuk penemuan dan pengetahuan baru. Ilmuwan Islam juga menjadikan naskah-naskah yang inkosisten tersebut menjadi lebih sistematis dengan membuat ikhtisar dan ensiklopedi.
Salah satu ilmuwan yang mengembangkan kedokteran saat itu adalah Abul Qasim Khalaf Ibnu Al-Abbas Az-Zahrawi yang merupakan keturunan Kaum Anshor Madinah. Beliau merupakah ahli bedah yang lahir pada tahun 936 M di El-Zahra, sebuah kota yang terletak 9,6 km dari Cordoba, Andalusia (Spanyol). Orang Eropa lebih akrab mangenalnya dengan sebutan Abulcasis. Terobosannya dalam dunia kedokteran, khususnya ilmu bedah, sangat luar biasa. Pisau bedah, tang, gunting halus untuk mata, perban, dan lebih dari 200 alat bedah lainnya merupakan penemuan dari dokter kerajaan pada Kekhalifahan Umayyah ini. Selain itu, beliau juga penggagas penggunaan catgut sebagai benang jahit yang dapat larut secara alami dalam tubuh, forceps untuk menarik janin mati, gips pada tulang, dan kapas sebagai penghenti perdarahan. Alat-alat kosmetika seperti deodorant, lotion, dan pewarna rambut juga merupakan hasil penemuan beliau.
Az-Zahrawi merupakan orang pertama yang melakukan bedah plastik. Selain bedah pelastik, beliau juga menemukan prosedur operasi pada penderita hidrosefalus dan ginekomastia. Hemofilia sebagai penyakit keturunan, merupakan teori yang pertama kali dideskripsikan oleh beliau. Hal inilah yang akhirnya membuat beliau dinobatkan sebagai “Bapak Ilmu Bedah Modern Dunia”.
Dalam pengabdiannya terhadap ilmu kedokteran, Az-Zahrawi menulis sebuah buku berjudul At-Tasrif yang deselesaikan pada tahun 1000 M. Dalam buku yang terdiri dari 30 jilid itu dikupas tuntas berbagai bidang ilmu kedokteran. Antara lain ilmu bedah, opthalmologi, ortopedi, nutrisi, farmakologi, kedokteran secara umum, dan lainnya. Buku tersebut disusun dengan lugas dan rinci sehingga mudah dipahami. Tidak heran jika buku emasnya ini dijadikan sebagai buku ajar dalam pendidikan kedokteran 5 abad lamanya. Buku ini pun banyak menjadi rujukan dalam tulisan-tulisan ahli kesehatan generasi selanjutnya.
At-Tasrif bukan hanya berisi pengembangan ilmu kedokteran secara klinis, tapi juga kode etik kedokteran. Didalamnya tertulis tentang hubungan baik dokter-pasien dan penekanan pentingnya untuk tidak membeda-bedakan status sosial pasien. Baginya, profesi dokter bukan sekedar sarana meraup keuntungan melainkan untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Untuk itulah bagi beliau sangat penting mendapatkan diagnosis yang akurat dari setiap kasus yang dihadapinya.
Jika kebanyakan ilmuwan menggunakan sebagian waktu dari kehidupannya untuk mengunjungi belahan lain dari dunia, Az-Zahrawi merupakan ilmuwan yang setia menetap di tanah airnya untuk mengabdi dan mengobati  korban kecelakaan dan perang. Beliau juga aktif mengembangkan ilmu kedokteran dengan mengajar. Sebagai seorang guru besar, Az-Zahrawi dikenal sangat peduli terhadap kesejahteraan para siswanya.
Dua tahun setelah tanah airnya dijarah dan dihancurkan, yaitu tahun 1030 M, Az-Zahrawi akhirnya tutup usia di Cordoba. Sekarang, Cordoba memang bukan lagi kota umat Islam, tapi nama Az-Zahrawi masih diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Cordoba, yaitu ‘Calle Abilcasis’ yang mana dulunya di jalan itu terdapat rumah tempat Az-Zahrawi tinggal. Kini, rumah tersebut telah ditata menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh Badan Kepariwisataan Spanyol.

Kepustakaan:






dan sumber-sumber lainnya~

Minggu, 23 Desember 2012

Infanticide

Catatan Unknown pada 10:05 AM 0 komentar
Infanticide atau kita kenal juga dengan istilah PAS (Pembunuhan Anak Sendiri), merupakan kasus pembunuhan terhadap bayi baru lahir yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dalam kasus infanticide ini, diberi keringanan hukuman dibandingkan kasus pembunuhan terhadap bayi yang diluar kategori infanticide. Hal ini disebabkan karena dalam infanticide, diduga adanyanya gangguan psikologis pada Sang Ibu, karena ibu masih labil atau takut ketahuan jika ia mempunyai anak. Penyebabnya sangat beragam. Bisa jadi karena Sang Ibu ditinggal suami saat mengandung, ibu korban perkosaan, atau kehamilan yang terjadi diluar nikah. Tentunya semua komplikasi yang dialami ibu sebelum dan selama kehamilan akan turut mempengaruhi psikologis ini. Karena itulah hal ini menjadi perhatian khusus dalam bidang kesehatan.


Nah, apakah semua kasus pembunuhan terhadap bayi ini tergolong infanticide? Tentunya tidak. Seperti yang dijabarkan diatas, ada unsur-unsur khusus yang menjadi syarat dari infanticide ini sendiri. Ada tiga unsur penting, yaitu:
  • Pelaku, tentunya yang melakukan ini haruslah ibu kandung korban sendiri tanpa adanya campur tangan orang lain.
  • Motif, harus murni karena terganggunya psikologis ibu
  • waktu, dilakukan segera setelah anak dilahirkan 

Untuk itu, perlu batasan-batasan sampai dimana suatu pembunuhan bayi itu disebut infanticide.

Pertama, pembunuhan. Sebelumnya, pembunuhan berarti mematikan orang yang sebelumnya hidup. Oleh karena itu perlu diketahui sebelumnya, apakah Si Bayi terlahir dalam keadaan hidup atau mati. Lahir dalam keadaan hidup berarti bayi sempat menghembuskan nafas. Artinya, ada tanda-tanda bernapas, refleks menangis, dan denyut jantung. Bila tanda-tanda tersebut tidak ada, dapat dikatakan bahwa bayi lahir mati. Namun, yang lebih ditekankan disini adalah pernapasan. Sementara denyut jantung yang menempati sistem kardiovaskular sudah bekerja sejak bayi dalam kandungan. 

Bayi yang lahir hidup dapat dibuktikan dengan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Pemeriksaan luar dilakukan dengan melihat bentuk dada. Pada bayi hidup bentuk dada akan bulat seperti tong. Tali pusat akan lengket ke perut, dan warna kulit kemerahan.

Untuk pemeriksaan dalam, diperlukan insisi. Pada bayi, insisi dilakukan mulai dari perut agar terlihat letak diafragma. Keadaan hidup atau mati, dilihat dari adanya udara di paru-paru, lambung, usus, liang telinga tengah, dan juga adanya makanan dilambung. 

Ciri-ciri paru yang mengembang karena sempat bernapas antara lain:
  • Memenuhi rongga dada, menutupi sebagian jantung
  • Warna merah keunguan atau merah muda
  • Gambaran mozaik atau seperti marmer
  • Ujung bawah paru tumpul
  • Pada paru yang diraba, akan teraba derik udara
  • Pada pemotongan jaringan paru, bila dipencet, darah akan keluar bercampur buih
  • Terlihat penggelembungan alveoli pada pemeriksaan mikroskopik
  • Tes apung paru positif

Selain itu, tentunya diperlukan saksi yang pernah melihat bayi menangis, namun, seringkali saksi sulit didapatkan sehingga pemeriksaan lebih dibuktikan dengan visum.

Pembunuhan tentunya dilakukan dengan cara tertentu. Baik dengan kekerasan ataupun peracunan. Untuk itu, perlu dilihat adanya bekas pencekikan, penjeratan, pembekapan, dan penyumbatan. 

Kedua adalah umur bayi. Disini, perlu diperhatikan dua hal, bayi cukup bulan dan bayi baru lahir.

Bayi yang dapat dikatakan infanticide, adalah bayi yang lahir setelah umur 7 bulan dalam kandungan. Karena dibawah 7 bulan, bayi belum bisa bertahan sehingga dimasukkan dalam kasus abortus.

Untuk bayi baru lahir, bayi yang dikatakan korban infanticide haruslah dibunuh segera setelah lahir. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri, seperti adanya vernix caseosa, udara, keadaan tali pusat, dan atau mekonium.

Jika terdapat udara di lambung, berarti bayi baru saja lahir. Jika udara sampai di duodenum, berarti bayi sudah lahir lebih dari 2 jam. Jika udara dalam usus besar, berarti bayi sudah hidup 6-12 jam. Jika mekonium sudah keluar, berarti telah hidup lebih dari 24 jam. Jika tali pusat pangkalnya kemerahan, berarti bayi telah hidup selama 36 jam. Bila tali pusat kering, umur bayi sudah 2 atau 3 hari. Jika putus, berarti sudah 6-8 hari.

Ketiga, layak atau tidaknya seorang bayi untuk hidup. Seorang bayi dikatakan layak hidup apabila berat badan >1000 gr, panjang badan >35 gr, lingkar kepala >32 cm, dan tidak ditemukan kelainan kongenital yang fatal.

Keempat, tanda perawatan. Jika seorang bayi sebelumnya telah mendapatkan perawatan, berarti bayi tersebut tidak dapat digolongkan dalam kategori infanticide. Adanya perawatan menunjukkan bahwa telah terbina kasih sayang antara ibu dan anak sebelumnya. Untuk mengetahui adanya perawatan, perlu diperhatikan beberapa hal:
  • Tubuh bayi yang berlumuran darah
  • Plasenta masih melekat pada tali pusat
  • Ujung tali pusat terpotong tidak beraturan karena dicabut dan sebagainya
  • Adanya vernix casseosa
  • Bayi belum berpakaian, belum mencerna air susu, dan lain-lain.
Di Indonesia, terdapat beberapa hukum yang mengatur tentang pembunuhan terhadap bayi ini, antara lain:
  1. KUHP 341, pembunuhan bayi tanpa rencana (maksimal 7 tahun)
  2. KUHP 342, pembunuhan bayi berencana (maksimal 9 tahun)
  3. KUHP 343, orang lain (selain ibu kandung) yang melakukan atau turut melakukan pembunuhan bayi (sama dengan pembunuhan biasa)
  4. KUHP 305, membuang anak dibawah usia 7 tahun (maksimal 5 tahun 6 bulan)
  5. KUHP 306, mengakibatkan luka berat atau mati (maksimal 7,5 - 9 tahun)
  6. KUHP 308, membuang anak yang baru lahir (setengah dari KUHP 305 dan 306)
  7. KUHP 181, menyembunyikan kelahiran atau kematian
Nah, sekian dulu bahasan tentang infanticide. Sekarang, apakah pembaca sekalian setuju dengan diringankannya hukuman terhadap ibu pelaku infanticide? Saya pribadi sejujurnya tidak. Namun, bagaimanapun kita perlu memberikan toleransi terhadap ibu yang melakukannya karena sebab tertentu, seperti ibu korban perkosaan.

Jadi menurut saya, infanticide ini dapat dicegah dengan memperbaiki kualitas mental ibu. Bagaimana caranya? Saya hanya punya satu solusi (mungkin pembaca bisa menambahkan solusi lain), mulailah hidup berorientasikan akhirat. Karena bagaimanapun, kedekatan kita dengan Tuhan, mempengaruhi kualitas spiritual kita. Semakin bagus spiritual, insyaallah, semakin bagus pula mental.

Sekian, terimakasih~

Kepustakaan:
  1. Gani, M. Husni, Materi Kuliah Ilmu Kedokteran Forensik. Padang. Bagian Kedokteran Forensik Universitas Kedokteran Universitas Andalas. 2007.
  2. Berbagai sumber yang telah disaring dari internet
  3. Tambahan bahan dari Kuliah Pengantar
  4. Tambahan bahan dari tutorial











 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation