Selasa, 15 Oktober 2013

Dua botol minuman Mineral

Catatan Unknown pada 4:37 PM 0 komentar

Pada sebuah meja terdapatlah dua botol minuman mineral. Anggap saja botol A dan botol B. Botol A terisi penuh oleh air dan botol B kosong. Jika kita ingin memindahkan air dari botol A ke botol B, apa yang dapat dilakukan?

Maka mulailah dengan membuka tutup botol A, lalu buka pula tutup botol B. Setelah itu, dekatkan moncong botol A ke botol B. Mulailah pindahkan air perlahan-lahan. Jangan tanggung-tanggung, pindahkan semuanya. Terakhir, tutup kembali dan letakkan dengan rapi.

Simple sekali. Hanya memindahkah air dari botol yang satu ke botol yang lain. Namun, semudah itukah ketika proses sedemikian kita ambil sebagai contoh dan diterapkan?

Baiklah teman, mungkin masih ada yang bingung sebenarnya apa sih maksud dari pemindahan air ini. Proses memindahkan air yang saya maksud adalah proses memberikan ilmu. Baik itu dalam agenda dakwah, belajar-mengajar, nasihat, sharing, mendidik adik, dan ribuan kegiatan lainnya yang serupa.

Ketika hendak memberikan ilmu ke orang lain, terlebih dahulu bukalah tutup yang ada pada diri Si Pemberi Ilmu atau botol A. Jika tutup tidak dibuka, ilmu tersebut tidak akan bisa berpindah. Maka bukalah semua jerat, hilangkan kesombongan, hilangkan ketidak ikhlasan, hilangkan rasa ingin dikenal, hilangkan rasa ingin mendapat pujian, hilangkan rasa ingin dibalas.

Kemudian, buka dulu tutup yang ada pada orang yang hendak diberikan ilmu atau botol B. Hal ini berarti, mulailah dari orang yang memang sudah terbuka atau bisa membuka diri terhadap ilmu yang diberikan. Untuk yang belum terbuka, tunggulah sampai terbuka dengan memberi dahulu keteladanan dan cinta. Jika kita ada diposisi botol B, jadikanlah diri kita sebagai botol yang kritis, #eeh... Membuka pada botol lain yang berisi air jernih dan menutup pada botol lain yang berisi air keruh. Maka hilangkanlah segala suudzon pada orang yang hendak memindahkan ilmunya. Jika beliau seorang guru, jangan sampai terbesit untuk membencinya se-killer apaun ia. Jangan beliau seorang teman atau lebih kecil umurnya dari kita, jangan ada anggapan bahwa kita lebih baik darinya. Jika yang memberi ilmu pun bukanlah orang yang pantas dijadikan teladan, selama ilmu yang diberikannya kita yakini baik maka terimalah dengan lapang.

Setelah kedua tutup terbuka, mulailah botol A moncongnya didekatkan dengan botol B dan masukkan air perlahan-lahan. Mengapa harus dekat? Karena kalau tidak begitu, belum tentu air yang akan ditumpahkan masuk seluruhnya ke dalam botol. Maka ketika posisi kita ada dibotol A, dekatkanlah diri kita pada orang yang akan kita beri ilmu dengan cinta. Lakukan semacam PDKT. Bina ia, didik ia, sayangi ia, doakan ia, perlakukan ia dengan baik. Karena jika tidak begitu, ilmu yang kita berikan bisa saja tumpah. Jika disini posisi kita ada di botol B, maka kita juga harus aktif mendekatkan diri pada botol A. Jangan sampai ketika kita tidak dekat, terjadi miss understanding atau semacamnya sehingga ilmu yang diberikan botol A tidak sampai ke kita. Rajinlah bertanya dan memberi tanggapan.

Dan mengapa harus perlahan-lahan? Tentunya jika tidak begitu akan sulit bagi botol B untuk menerima air yang ada. Bisa saja air tumpah. Atau botol B menjadi oleng dan jatuh sehingga air yang telah masuk berserak dan tak berguna lagi.

Terakhir, jangan tanggung-tanggung, penuhi botol B dengan air. Jika botol B volumenya lebih besar atau sama besar, masukkan semua air yang ada. Jika botol B volumenya lebih kecil, masukkan secukupnya hingga ia penuh. Botol A jangan takut airnya habis, karena jika itu benar-benar ilmu, sesungguhnya ilmu itu tidak akan habis. Justru itu artinya ilmu itu sudah lengket dan sudah tercipta space baru untuk menerima ilmu yang lain. Untuk botol B, jangan setengah-setengah dalam menimba ilmunya. Mintalah semua ilmu itu diberikan agar dilain waktu, botol B juga bisa memberikan ilmu pada botol-botol yang lainnya.

Semangat berbagi!
Semangat saling memperbaiki!
^___^

Catatan ini diambil dari sebuah taujihat yang disampaikan seorang senior.

Hijab Pergaulan

Catatan Unknown pada 4:26 PM 0 komentar

Hijab dalam bahasa arab berarti penghalang. Hijab bisa jadi pakaian yang menghalangi orang lain (non-mahrom) dari melihat aurat seseorang, bisa juga sebagai pembatas antara laki-laki dan perempuan. 

Pada dasarnya, keduanya sama-sama penghalang dari terjadinya dosa dan maksiat. Dalam catatan kali ini akan dibahas hijab dalam pergaulan.

Cara bergaul antara laki-laki dan perempuan telah diatur pula oleh Islam. Tak lain dan tak bukan bertujuan untuk keselarasan kehidupan sekaligus menghindari maksiat. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, alangkah pentingnya bagi kita untuk mengetahui dan menerapkan etika-etika pergaulan dalam Islam.

Pertama, jangan mendekati zina. Sudah termaktub jelas dalam Al-Isra' ayat 32 mengenai hal ini. Larangan mendekati zina lebih mengena dibanding larangan berbuat zina itu sendiri. Karena dalam larangan mendekati zina tercantum semua larangan yang mengarah pada perbuatan keji tersebut. Mendekati zina ini dapat terjadi pada mata dengan meihat, pada tangan dengan menyentuh, pada kaki dengan mendekati. Karena itulah, hendaknya sebagai kaum muslim yang baik kita diarahkan untuk menjaga pandangan, tidak menyentuh lawan jenis, dan menutup aurat. Namun, jika suatu saat terjadi hal yang darurat sehingga dengan terpaksa seseorang menyentuh yang bukan mahrom nya, maka itupun menjadi alasan syar'i diperbolehkannya bersentuhan. Menjaga pandangan bukan berarti pula sama sekali tidak melihat. Terlihat dan memandang itu beda lho artinya.

Kedua tidak berkhalwat. Apa itu khalwat? Khalwat adalah berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang non mahrom. Dalam hal ini komunikasi dalam bentuk apapun tanpa kehadiran orang ketiga syar'i dan alasan yang syar'i, maka patutnya dihindari. Orang ketiga syar'i itu sendiri merupakan muslim/ah yang baligh dan berakal. 

Nah, sekarang kita lihat realita orang pacaran. Apakah ketika mojok mereka mengikutsertakan orang ketiga syar'i? Apakah alasan pacarannya syar'i? Dan apakah dalam menjalani masa pacaran disertai dengan menjaga pandangan, tidak saling bersentuhan, dan menutup aurat?

Ketiga Tidak berikhtilat. Ikhtilat tidak jauh beda dengan khalwat. Ikhtilat merupakan bercampur baurnya laki-laki dan perempuan yang non mahrom, lebih dari dua orang, dalam suatu tempat. Terus, kuliah apakah termasuk ikhtilat? Ya, kuliah juga ikhtilat. Namun, kita telah terlahir dalam keadaan yang memang tidak ada hijab dengan baik. Antara laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan (seperti di negara arab atau di pesantren-pesantren). Karena itu, bukan masalah ikhtilat ketika kuliah. Jikalaupun kita berdosa karena itu, maka istighfar dan hantam dengan amalan-amalan sunnah yang banyak. Nah, maka karena itu pula sangat penting untuk membentuk hijab hati.

Senin, 14 Oktober 2013

Save Egypt, Dimana Nurani?

Catatan Unknown pada 11:30 PM 0 komentar
Salah satu tulisan yang umat Muslim wajib baca!!!

Tentunya bukan hal asing lagi ditelinga kita tentang prahara yang menimpa saudara-saudara kita di Mesir. Kebetulan, saya mendapat sebuah tulisankeren dari selebaran yang dibagikan di kampus. Jadi, mengapa kita harus capek-capek menyuarakan keadilan di negara orang??? Mengapa kita harus ikut-ikutan mengurusi negeri orang padahal negri sendiri saja masih hancur seperti sekarang?

Check it out! You'll fill the 'shock'!!






R4bia, Arti Simbol 4 Jari

Catatan Unknown pada 11:26 PM 0 komentar

Di jejaring sosial twitter, facebook dan juga profil picture di BlackBerry Messenger, Whatsapp ataupun Yahoo! Messenger simbol ini sudah massif dipakai. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa orang ramai menggunakan default picture (DP) facebook atau jejaring sosial lainnya menggunakan simbol 4 jari seperti di bawah ini dan hashtag #R4BIA? Apakah R4BIA itu ? Berikut sedikit penjelasan singkat mengenai makna dari simbol tersebut:


1. Dalam bahasa Arab, Rabi’ah/arba’ah artinya Empat . Rab’ah (angka 4) dijadikan sebagai simbol keteguhan , kekuatan , perlawanan dan persatuan untuk seluruh dunia yang mencintai kebebasan.
2. Simbol 4 jari sebagai simbol untuk mengenang markas demonstran Pro Mursi di Rabi’ah yang telah dihancurkan oleh tentara junta . Simbol 4 jari untuk menunjuk ikon Rabi’ah.
3. Di Mesir kebanyakan tempat atau daerah menggunakan istilah nomor dan mereka menggunakan simbol isyarat jari dalam keseharian. Sebagai contoh Hayyu Asyir (Daerah 10) , Hayyu Sabiek (Daerah 7) biasanya menggunakan simbol peace V, Hayyu Sadis (Daerah 6), Hayyu Thamin (Daerah biasanya menggunakan simbol atau isyarat V terbalik dan lain sebagaianya.
4. Seperti dijelaskan diatas, simbol 4 jari ini telah diluncurkan oleh Perdana Menteri Turki , Recep Tayip Erdogan mulai Sabtu (17/8/ 2013) setelah mengecam keras pembantaian yang dilakukan tentera junta Mesir yang terjadi pada hari Jumat dan Sabtu di Ramses Square dan Masjid Fatih yang dikepung tentara junta.
5. Tujuan avatar simbol #R4BIA dipakai oleh pendukung Morsi di media sosial seperti facebook dan twitter sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap apa yang terjadi di Mesir . Selain itu bisa juga untuk menggugah kesadaran masyarakat umum mengenai krisis kemanusiaan yang terjadi di Mesir sekarang ini.


Bagi yang cinta kedamaian, tunjukkan empat jarimu!!! #SaveEgypt

Az-Zahrawi, Bapak Ilmu Bedah Modern Dunia

Catatan Unknown pada 1:04 PM 0 komentar

750 M – 1258 M, para filusuf, insinyur, dan ilmuwan Islam menyumbangkan banyak kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satunya dalam bidang kedokteran. Para ilmuwan Islam mempelajari naskah-naskah kedokteran Yunani karya Gallen dan Hippocrates
yang saat itu dipandang jelek di Eropa, kemudian mengembangkannya sehingga terbentuk penemuan dan pengetahuan baru. Ilmuwan Islam juga menjadikan naskah-naskah yang inkosisten tersebut menjadi lebih sistematis dengan membuat ikhtisar dan ensiklopedi.
Salah satu ilmuwan yang mengembangkan kedokteran saat itu adalah Abul Qasim Khalaf Ibnu Al-Abbas Az-Zahrawi yang merupakan keturunan Kaum Anshor Madinah. Beliau merupakah ahli bedah yang lahir pada tahun 936 M di El-Zahra, sebuah kota yang terletak 9,6 km dari Cordoba, Andalusia (Spanyol). Orang Eropa lebih akrab mangenalnya dengan sebutan Abulcasis. Terobosannya dalam dunia kedokteran, khususnya ilmu bedah, sangat luar biasa. Pisau bedah, tang, gunting halus untuk mata, perban, dan lebih dari 200 alat bedah lainnya merupakan penemuan dari dokter kerajaan pada Kekhalifahan Umayyah ini. Selain itu, beliau juga penggagas penggunaan catgut sebagai benang jahit yang dapat larut secara alami dalam tubuh, forceps untuk menarik janin mati, gips pada tulang, dan kapas sebagai penghenti perdarahan. Alat-alat kosmetika seperti deodorant, lotion, dan pewarna rambut juga merupakan hasil penemuan beliau.
Az-Zahrawi merupakan orang pertama yang melakukan bedah plastik. Selain bedah pelastik, beliau juga menemukan prosedur operasi pada penderita hidrosefalus dan ginekomastia. Hemofilia sebagai penyakit keturunan, merupakan teori yang pertama kali dideskripsikan oleh beliau. Hal inilah yang akhirnya membuat beliau dinobatkan sebagai “Bapak Ilmu Bedah Modern Dunia”.
Dalam pengabdiannya terhadap ilmu kedokteran, Az-Zahrawi menulis sebuah buku berjudul At-Tasrif yang deselesaikan pada tahun 1000 M. Dalam buku yang terdiri dari 30 jilid itu dikupas tuntas berbagai bidang ilmu kedokteran. Antara lain ilmu bedah, opthalmologi, ortopedi, nutrisi, farmakologi, kedokteran secara umum, dan lainnya. Buku tersebut disusun dengan lugas dan rinci sehingga mudah dipahami. Tidak heran jika buku emasnya ini dijadikan sebagai buku ajar dalam pendidikan kedokteran 5 abad lamanya. Buku ini pun banyak menjadi rujukan dalam tulisan-tulisan ahli kesehatan generasi selanjutnya.
At-Tasrif bukan hanya berisi pengembangan ilmu kedokteran secara klinis, tapi juga kode etik kedokteran. Didalamnya tertulis tentang hubungan baik dokter-pasien dan penekanan pentingnya untuk tidak membeda-bedakan status sosial pasien. Baginya, profesi dokter bukan sekedar sarana meraup keuntungan melainkan untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Untuk itulah bagi beliau sangat penting mendapatkan diagnosis yang akurat dari setiap kasus yang dihadapinya.
Jika kebanyakan ilmuwan menggunakan sebagian waktu dari kehidupannya untuk mengunjungi belahan lain dari dunia, Az-Zahrawi merupakan ilmuwan yang setia menetap di tanah airnya untuk mengabdi dan mengobati  korban kecelakaan dan perang. Beliau juga aktif mengembangkan ilmu kedokteran dengan mengajar. Sebagai seorang guru besar, Az-Zahrawi dikenal sangat peduli terhadap kesejahteraan para siswanya.
Dua tahun setelah tanah airnya dijarah dan dihancurkan, yaitu tahun 1030 M, Az-Zahrawi akhirnya tutup usia di Cordoba. Sekarang, Cordoba memang bukan lagi kota umat Islam, tapi nama Az-Zahrawi masih diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Cordoba, yaitu ‘Calle Abilcasis’ yang mana dulunya di jalan itu terdapat rumah tempat Az-Zahrawi tinggal. Kini, rumah tersebut telah ditata menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh Badan Kepariwisataan Spanyol.

Kepustakaan:






dan sumber-sumber lainnya~

Jumat, 04 Oktober 2013

3 Potensi Dasar Manusia

Catatan Unknown pada 8:58 AM 0 komentar

Manusia, atau dalam bahasa arab disebut dengan Al-Insaan, merupakan makhluk ciptaan Allah yang terbuat dari dua unsur, yaitu tanah dan ruh. Sebagai makhluk, manusia merupakan makhluk yang lemah, bodoh jika tidak mendapat hidayah Allah swt, faqir akan rezeki dan hidayah-Nya, juga berada dalam fitrah. 
Namun, manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang mempunyai potensi besar. Karena itulah manusia dimuliakan dan diberi tugas untuk beribadah dan sebagai khalifah di bumi ini. Untuk itu, manusia dapat menjadi amanah ataupun khianat. Tergantung sikap mana yang akan dipilih oleh indivual manusia itu sendiri. Namun, perlu diingat, apapun yang nantinya jadi pilihan bagi manusia itu sendiri akan mendapat balasan nantinya. Tentunya yang baik akan dibalas baik dan yang buruk akan dibalas buruk.

Karena itulah manusia diberikan 3 potensi dasar yang apabila ketiganya digunakan dengan baik maka manusia akan terlepas dari kebodohan, kesia-siaan, dan dapat melejitkan potensi yang dimilikinya dalam kebaikan.

  1. Hati. Dalam bahasa arab, hati disebut juga Al-Qulub. Adapula yang menafsirkannya sebagai jantung. Al-Qulub sendiri berasal dari kata yang berarti bolak-balik. Karena itulah hati manusia cendrung untuk berubah-ubah. Maka karena itu sangat perlu bagi kita untuk menjaga fluktuasi hati agar selalu dalam kondisi yang baik.
  2. Akal. Dengan akal, manusia dapat menimba ilmu dan berfikir cemerlang. Itulah sebabnya manusia diberikan beban syari'ah.
  3. Jasad. Manusia merupakan makhluk yang diberi sebaik-baik jasad. Dengan jasad yang kita miliki kita dapat bekerja dan mewujudkan kebaikan-kebaikan dari hati dan akal kita.

Kamis, 04 Juli 2013

Renungan Isra' Mi'raj

Catatan Unknown pada 9:11 AM 0 komentar
Writed by: Muthya Harystha, PenDok Unand 2011...


Beberapa hari yang lalu diperingati sebuah peristiwa besar dalam Islam yaitu Isra’ Mi’raj. Mari kita kembali mengingat dan merenungkan peristiwa agung ini.
Isra’ Mi’raj adalah satu malam yang penuh berkah, dimana Allah  menurunkan perintah untuk menjalankan amalan shalat. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan peristiwa Isra’ Mi’raj ini terjadi.  Ada yang mengatakan Bulan Rajab, ada juga yang mengatakan Bulan Rabiul Awal. Kita tidak perlu larut dalam perdebatan, karena bukan tanggalnyayang penting melainkan perintah Allah yang harus diperhatikan dan dilaksanakan.
Isra’ Mi’rajdidahului oleh peristiwa yang amat menyedihkan bagi Rasulullah, yaitu kematian dua pembela setia beliau, yaitu Sang Paman Abu thalib dan istri tercinta, Khadijah. Allah kemudian menghibur Rasul SAW dengan peristiwa Isra’ Mi’raj.  Malaikat Jibril diperintahkan untuk menemani Rasulullah melakukan Isra’, perjalanan dari Makkah (Baitul Haram) ke Yerusalem (Baitul Maqdis). Disana rasul SAW melakukan mi’raj, perjalanan dari Baitul Maqdis ke langit ke-7 untuk menerima perintah shalat dari Allah. Perjalanan ini dilakukan dalam satu malam.
Setelah menerima perintah shalat dan mengalami peristiwa luar biasa ini, Rasul SAW berkhutbah di hadapan Kaum Quraisy. Apa yang terjadi? Rasul dianggap gila, bagi mereka mustahil Yerusalem dapat ditempuh dalam satu malam. Bahkan beberapa orang yang sebelumnya telah memeluk islam kembali kafir karena tidak percaya, naudzubillah. Hanya segelintir sahabat yang tetap beriman. Maka begitu besar keimanan para sahabat yang tetap menjadi muslim di saat Rasul SAW menyampaikan kabar yang sulit diterima akal.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? Jagalah shalat kita. Ingatlah Q.S 29:45 “Sesungguhnya shalat itu mencegah  perbuatan keji dan mungkar. Dan ketahuilah bahwa mengingat Allah (shalat) itu lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain”.Yakinlah, jika shalat kita baik, maka akan baik pula amalan lainnya, Insyaallah. Semoga momen bersejarah umat islam ini tak hanya sekedar lewat dan berlalu begitu saja, tapi dapat kita ambil hikmah darinya.

Sumber : taushiyah
 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation