Jumat, 20 April 2012

Lirik Miley Cyrus - Butterfly

Catatan Unknown pada 11:09 PM 0 komentar
Dapat lagu ini dari movie Hannah Montana.

You tucked me in, turned out the light
Kept me safe and sound at night
Little girls depend on things like that

Brushed my teeth and combed my hair
Had to drive me everywhere
You were always there when I looked back

You had to do it all alone!
Make a living, make a home
Must have been as hard as it could be

And when I couldn't sleep at night
Scared things wouldn't turn out right
You would hold my hand and sing to me

Caterpillar in the tree
How you wonder who you'll be
Can't go far but you can always dream

Wish you may and wish you might
Don't you worry, hold on tight
I promise you that there will come a day
Butterfly fly away

Butterfly fly away, butterfly fly away
Got your wings now, you can't stay
Take those dreams and make them all come true

Butterfly fly away, butterfly fly away
You've been waiting for this day
All along and known just what to do
Butterfly, butterfly, butterfly, butterfly fly away

Butterfly fly away,
Butterfly fly away!


Rabu, 18 April 2012

Pesantren

Catatan Unknown pada 8:47 AM 0 komentar

Pembaca yang cakep, pernah dengar kata pesantren kah? Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar satu kata tersebut? Mungkin ada yang dengan senyuman manis berpikir, “Subhanallah, disana berkumpul orang-orang yang mendalami agama.” Atau ada juga yang berpikir, “Itu adalah tempat anak-anak bandel dididik biar taubat.” Atau ada juga yang berpikir, “Pesantren itu tempat kuno, isinya makhluk berbaju putih, sorban, gamis, gak gaul.” Apakah ada juga yang berpikir, “isinya adalah penderitaan, makan seadanya, mandi ala kadarnya, terkurung, tidak bebas.”
Yaah, orang-orang tentunya punya presepsi yang berbeda tentang pesantren. Pada kenyataannya, memang pesantren-pesantren yang ada mempunyai sistem dan fasilitas yang berbeda-beda.

Perbedaan pendapat itu lumrah. Malah perbedaan itu yang membuat persatuan kita menjadi indah. Namun, suatu hari saya pernah mendengar seseorang berujar KURANG LEBIH seperti ini, “SAYA MENYESAL DULU PERNAH MASUK PESANTREN. UNTUNG DI PESANTREN CUMA X TAHUN, GA LAMA-LAMA.
Yaa... perbedaan pendapat itu lumrah. Tentunya pendapat orang yang eks pesantren itu tidak dapat dipersalahkan, karena perbedaan pendapat merupakan hal yang patut dihargai.
Namun, maaf sekali, ada yang teriris di dada saya ketika mendengar kalimat seperti itu. Apalagi ketika tahu orang yang besangkutan sudah benar-benar futur dan melupakan segala tetek bengek yang pernah ia pelajari di pesantren.
Saya pun tidak menyangkal, saya sendiri merupakan eks pesantren. Dan kalau ditanya, “Apa sih yang kamu banggakan pernah sekolah di pesantren?”
Saya pun akan bingung menjawabnya. Karena jujur, saya bukanlah manusia yang punya prestasi besar yang pantas disanjung-sanjung. Tapi bukan berarti pesantren itu jelek. Hanya saja pertanyaan tersebut kurang tepat jika ditanyakan ke saya. Tapi kalau masih ngotot mau jawaban, saya bisa carikan orang-orang sukses alumnus pesantren yang saya kenal.
Tapi, mengingat tidak ada yang istimewa dari pesantren ini, tidak dapat dipungkiri bahwa bagi saya, anugrah terbesar yang diberikan Allah kepada saya adalah PERNAH MENJADI SANTRI DI PESANTREN.
Kenapa?
Di pesantren lah saya mengenal agama saya yang sesungguhnya. Disanalah awal mula Allah memberikan hidayahnya kepada saya. Di sana saya menghafal al-Qur’an, memahami agama dan berkenalan dengan ukhuwah islamiyah. Mungkin bagi rekan-rekan yang membaca, ini sepele. Tapi bagi saya, Allah sudah sangat baik kepada saya dengan mengenalkan saya pada agama saya yang kaffah sejak masih sangat muda.
Sayang sekali, setelah keluar dari pesantren saya malah menyia-nyiakan hidayah yang pernah saya dapat, berhubung saya di pesantren hanyalah seumur jagung. Kebanyakan orang yang saya kenal dan bernasib sama pun begitu. Selepas mereka dari pesantren, seakan-akan didikan pesantren itu tidak pernah ada. Maklum, umumnya keluar di usia muda dan belum benar-benar menemukan jati dirinya ketika berada di pesantren sehingga setelah keluar cendrung masih mencari yang lain. (Beruntunglah orang yang sudah ketemu jati dirinya di pesantren *andai itu saya*)
Ketika itulah para eks pesantren menemukan banyak kejanggalan yang ada di pesantren. Pemikiran anak pesantren yang jelas berbeda dengan orang-orang luar dan kebiasaan orang-orang luar yang dianggap lebih fun  dari pada kebiasaan selama di pesantren. Kemudian, pesantren yang dulu membesarkan para eks pesantren tersebut akan sendirinya mereka anggap kolot. (Alhamdulillahsaya tidak sampai ke tingkat ini, dong)
Lantas, apakah setelah itu seseorang benar-benar pantas menyesali bahkan mencacimaki pesantren yang pernah mereka tempati?
Tentunya ini bukan hal yang pantas untuk disesali apalagi dicacimaki. Inilah jalannya Allah memberikan petunjuk bagi orang-orang yang pernah mendekam di penjara suci ini. Mengingat keadaan Indonesia yang nyaris sekuler, tidak semua orang beruntung dikenalkan pada Islam sejak masih sangat kecil.
Nyatanya, kiamat pasti akan datang. Dunia ini akan hancur dengan sendirinya. Semua yang kita kejar di dunia pun akan ikut menjadi keping-keping ketika Allah memanggil kita untuk kembali. Itulah sebabnya kita sangat butuh akan ilmu agama. Seringkali kita hati kita ditutupi kabut kesombongan sehingga ketika kita haus akan ilmu agama, ada sisi yang menyangkal dan memberi minuman lain sebagai penggantinya.
Para eks pesantren, begitulah, dunia ini hanya sementara. Tidakkah rekan-rekan merasakan bahwa kesempatan yang diberikan Allah pada rekan-rekan sekalian di pesantren dulu merupakan bukti bahwa Allah pernah memanggil rekan-rekan kesisi-Nya? Bukankah itu tanda sayangnya Allah pada kita? Kita lah yang dipilih-Nya saat itu. Walaupun sekarang kita telah disuguhi dengan minuman yang salah, jangan pernah menyesali pernah mendapat didikan di pesantren. Tapi bersyukurlah, biarpun sekarang kita cendrung menjauh, namun di pesantrenlah kita pernah dikenalkan dengan agama. Disanalah kita diberi pemahaman tentang dunia dan akhirat.
Rekan-rekan, tolonglah jangan terlalu sombong, jangan sampai kesombongan itu malah memakan kita di akhirat nanti. Marilah kita melihat lagi ke dalam hati kita dan jangan tepiskan jika hati berkata jujur, “Di pesantrenlah saya pernah benar-benar merasakan ketenangan. Ketika itu, ketika Allah memanggil jiwa saya, ketika saya benar-benar berada di posisi yang sangat dekat dengan-Nya.”
Jadi, jika masih ada yang mengemukakan penyesalan akan pesantren pada saya, dengan lantang saya akan membalas, “SAYA ADALAH ORANG YANG BERUNTUNG KARENA DI UMUR 12 TAHUN ALLAH TELAH MEMANGGIL SAYA UNTUK UNTUK MEMAHAMI AGAMA-NYA DI KONDISI MASYARAKAT YANG KEBANYAKAN CENDRUNG MENOMOR DUAKAN URUSAN AGAMA. BAGI SAYA ITU TANDANYA ALLAH CINTA PADA SAYA.

*Ditulis hanya sebagai pengobat hati yang luka karena omongan orang lain yang penuh kesombongan akan Tuhan.


"Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami bahwa yang bathil itu bathil dan berilah kemampuan kepada kami untuk menghindarinya". (HR. Ahmad dan Ibnu Saani)

Selasa, 10 April 2012

Jalan Buntu

Catatan Unknown pada 10:47 PM 0 komentar
Aku terhenti pada altar hatiku yang bisu
Kaki yang sejak tadi menapak  tak kuasa melangkah lagi
Bibirku pun bergumam sibuk bertanya pada kepala
Tapi kepala diam…
Justru mengisyaratkan tangan agar mengais-ngais bata
Berharap cakarnya mampu memberi jawaban
Namun mataku tak pernah percaya pada tangan
Dua bolanya hanya memandang kosong
Dan kakiku hanya memaki-maki mataku
Jiwaku resah, sungguh konflik 
ini menyembunyikan pintu keluar
Ya,
Jalan di depan… buntu

Kamis, 29 Maret 2012

Kasih Sayang Ibu part 2

Catatan Unknown pada 9:52 PM 0 komentar
Bukan, ini bukan pertama kalinya aku menemui ibu ini. Ibu yang dengan segala kesabarannya menggendong anaknya kemana-mana. Anaknya yang cacat, dengan kaki kecil dan tangan bengkok, serta liur yang terus menerus menetes. Anaknya yang masih seukuran anak SD, namun wajahnya sudah seperti seorang remaja.

Sebelumnya saya sudah pernah manceritakan tentang ibu yang satu ini di Kasih sayang ibu part 1. Kali ini, kembali saya dipertemukan dengan ibu dan anak yang sama di angkot jurusan Kalapa - Ledeng. Masih seperti kemaren, dengan penuh kasih sayang Si Ibu menggendong, melindungi anaknya dari panas, mengelap iler anaknya, dan bertanya jika sewaktu-waktu anaknya itu pusing atau terasa sakit. Anaknya hanya akan menjawab dengan kedipan. Namun Si Ibu tidak putus asa untuk mengajaknya bicara.

Pertemuan kedua ini, Si Ibu turun di depan sebuah rumah sakit. Beliau pastilah ingin memeriksakan anaknya. Mungkin sudah rutin adanya. Dalam hati, aku tak bisa menahan sayatan yang tiba-tiba terasa. Sungguh membuatku rindu akan ibuku, akan kasih sayang yang tak lekang itu.


Kali ini, saya sempat mencuri fotonya diam-diam. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk mengabadikan cinta ibu ini pada anaknya. Agar semua orang tahu, bahwa kata-kata "Cinta ibu lebih dari luas lautan" bukan hanya kata-kata semata. Namun, karunia Allah yang tak lekang dan fitrah, yang menjadikan ditelapak kaki ibu terdapat indahnya syurga~


Jumat, 16 Maret 2012

Lirik Ungu - Cinta Dalam Hati

Catatan Unknown pada 10:58 PM 0 komentar
Beneran, lagu ini tidak mewakili perasaan siapapun. Hanya suka saja dengan liriknya dan video clip nya. Hehee,..

Mungkin ini memang jalan takdirku

Mengagumi tanpa dicintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu

Telah lama kupendam perasaan ini

Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku



Ku ingin kau tahu
Diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga hujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya

Dan izinkan aku

Memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja

Rabu, 22 Februari 2012

Lirik TAYLOR SWIFT - Love Story

Catatan Unknown pada 11:07 PM 0 komentar
We were both young when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts:
I'm standing there on a balcony in summer air.

See the lights, see the party, the ball gowns.
See you make your way through the crowd
And say, "Hello, "
Little did I know...

That you were Romeo, you were throwing pebbles,
And my daddy said, "Stay away from Juliet"
And I was crying on the staircase
Begging you, "Please don't go"
And I said...

"Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess,
It's a love story, baby, just say, 'Yes.'"

So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes... escape this town for a little while.
Oh, oh.

'Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,
And my daddy said, "Stay away from Juliet."
But you were everything to me,
I was begging you, "Please don't go."
And I said...

"Romeo, take me somewhere we can be alone.
I'll be waiting; all that's left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess.
It's a love story, baby, just say, 'Yes.'

Romeo, save me, they try to tell me how to feel.
This love is difficult but it's real.
Don't be afraid, we'll make it out of this mess.
It's a love story, baby, just say, 'Yes.'"

Oh, oh.

I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town.
And I said...

"Romeo, save me, I've been feeling so alone.
I keep waiting for you but you never come.
Is this in my head? I don't know what to think."
He knelt to the ground and pulled out a ring and said...

"Marry me, Juliet, you'll never have to be alone.
I love you, and that's all I really know.
I talked to your dad – go pick out a white dress
It's a love story, baby, just say, 'Yes.'"

Oh, oh, oh, oh, oh.

'Cause we were both young when I first saw you...

Rabu, 18 Januari 2012

Kasih Sayang Ibu part 1

Catatan Unknown pada 10:50 PM 0 komentar
Angkot Dayeuh Kolot - Buah Batu, menepi di depan sebuah toko. Aku turun dan berganti angkot dengan jurusan Buah Batu - Kalapa. Aah, nyaman sudah duduk di angkot yang baru. Mulai kukeluarkan HP sembari menunggu angkot yang masih nge-tem menunggu penuhnya penumpang lain.

Satu-persatu masuk, angkot mulai ramai. Tersisa satu tempat duduk lagi, di kursi 4, paling ujung, paling dekat pintu. Angkot sudah hendak menyerah dan hendak pergi, ketika seorang ibu yang sedang menggedong anaknya setengah berlari menghampiri. Untunglah Si Supir berbaik hati otret kembali dan membiarkan ibu itu masuk. Dengan susah payah menggendong anaknya yang memiliki bobot cukup besar, Si Ibu naik dan duduk setengah pantat di bangku yang tersisa.

Angkotpun mulai berjalan, Si Ibu susah payah menggendong anaknya. Saat itulah aku mulai heran. Awalnya kupikir anak yang digendong Si Ibu masih balita. Namun setelah dicermati lagi, anak itu terlalu besar untuk balita. Tingginya setara anak kelas dua atau tiga SD.


Setelah beberapa penumpang turun, aku yang duduk di kursi panjang bergeser ke dekat kursi supir. Rasa penasaranku terhadap anak itu tak dapat kuacuhkan saja. Di posisiku yang baru, dengan leluasa dapat kulihat anak itu. Alangkah terkejutnya aku, anak itu bukan benar-benar bukan balita. Tampangnya sudah seperti remaja, dengan bibir maju dan air liur yang tak berhenti meleleh. Namun, kaki yang kecil tentu tak dapat menopang bobotnya. Apalagi tangannya tampak bengkok.

Di lubuk hatiku memang terpencar rasa kasihan begitu aku melihat anak itu. Namun, yang membuatku luluh bukanlah kecacatannya, melainkan sikap ibunya yang bisa dibilang kurus pendek. Ibunya dengan postur tubuh seperti itu dengan sabar menggendongnya, melap liurnya, mengipasinya, dan menutupinya dari paparan sinar matahari. Sesekali ibunya bertanya padanya apakah ia merasa pusing atau sakit. Anak itu tidak bisa bicara, hanya bisa mengedipkan dua kelopak matanya. Namun ibunya seakan mengerti, apapun yang diingini anaknya.

Sunggun menakjubkan...

Cerita ini mungkin agak membingungkan, tapi sungguh sangat sayang melupakan kejadiannya. Cinta ibu pada anaknya, yang terbukti nyata, karena ini bukan drama kolosal saja.
 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation