Sabtu, 13 Desember 2008

Sampai Jumpa di UGM

Catatan Unknown pada 11:42 PM 0 komentar
“Maaf…” Dila meraih jemari Maya yang lemas dan dingin.
“Bukan salah kamu.” Maya menunduk lesu, menyembunyikan dua matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Kalau begitu maaf jika kemarin-kemarin aku punya salah.” Dila memejamkan matanya pelan, meneteskan dua bulir air jernih.
Maya hanya mengangguk bisu, sementara tubuhnya yang beku mulai bergetar, tak sanggup menahan alir dari dua pelupuk matanya. Kepala yang sedari tadi disembunikannya mulai ditengadahkannya sehinnga mata basahnya menatap dalam sahabat didepannya yang akan pergi karena pekerjaan orang tua yang tak dapat dimengerti. Dan bagaimana bisa orang yang telah dianggapnya saudara harus pergi. Bahkan, Dila adalah teman yang tak pernah absen sebangku dengannya sejak mereka bermain di sekolah dasar hingga kini, tahun pertama SMA. Dila pula yang selalu menjadi guru ketika ia tak mengerti pekerjaan rumah yang diberikan, dan Dila pula sebagai tempat berbagi yang mampu memberikan solusi bijaksana dalam kedewasaannya. Apakah ia sanggup tak punya Dila lagi?
“May, kamu punya cita-cita, kan?” tanya Dila dengan mata yang juga basah.
Untuk yang kedua kalinya Maya mengangguk bisu. Bibirnya yang gemetar tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
“Dan kamu ingat, kita punya rencana kuliah di UGM.”
Lagi-lagi Maya hanya mengangguk. Sejenak hening, mereka diam. Tak salah jika orang seperti Dila mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia memang rajin tak begitu saja putus asa jika sekali gagal. Semangatnya tinggi, dan semangat itulah yang selalu ditularkannya kepada Maya ketika Maya mulai jenuh. Itu pulalah yang membuat Maya tak percaya jika nanti Dila pergi ia akan bisa melawan kejenuhannya.  
 “Kita pasti akan ketemu dua tahun lagi, di UGM.” suara Dila memecah, penuh percaya diri.
“Tapi,” Maya menatap Dila dalam, mencari kejelasan tentang bagaimana ia akan bisa tanpa orang yang selama ini dianggapnya peri prestasinya. Tak ada jawaban. “Dil, aku tak pernah mengerti matematika sebelum kamu menjelaskannya. Dan jika kamu pergi…”
“May!” Dila balik menatap Maya tajam. “Apa sih yang ngga bisa? Kamu kira selama ini yang membuat nilaimu tinggi itu, aku? Ngga, May. Kamu pasti bisa sendiri.”
“Dil, tapi aku…”
Dila langsung memeluk erat sahabatnya. Berat, sangat berat. Jika saja ia boleh memilih, ia tak akan pergi. Namun kenyataan bahwa ia masih membutuhkan kedua orang tuanya, membuatnya tak dapat tinggal. 
“Dila, kita sudah terlambat, nanti ketinggalan pesawat. Kalau sempat kita akan main kesini, kok.” ibu Dila tersenyum lembut.
Maya perlahan melepas peluk sahabatnya. Air mata yang mengalir dari dua pasang sinar mata mereka masih belum berhenti. Sepatah katapun tak dapat keluar lagi dari kuncup bibir mereka.
“Kita bisa May…” bisik Dila pelan, lalu menjauh, memasuki mobil yang sedari tadi menunggu.
Maya kini benar-benar harus melepas Dila. Seorang sahabat bahkan saudara yang tak kan pernah dimilikinya lagi. Karena tak ada lagi yang dapat mengganti kenangan manis bersama Dila setelah lima belas tahun dunia dilewatinya.
Dila memasuki mobil dan melambai dari kaca yang terbuka lebar. Sementara roda-roda mobil itu mulai menjauh perlahan. Dila menatap tajam dan berteriak keras,”Sampai jumpa di UGM!!!”. Dan mobil pun melaju kencang.
Maya terdiam, kakinya tak sanggup menjauh. Dila pergi, dan apakah bisa ia memenuhi pertemuan nanti di UGM. Ia tak yakin ia bisa, ia tak yakin…
***
Maya memandang kampus barunya sekaligus setiap orang yang lalulalang. Ia mencari Dila, sahabat yang ia rindukan. Yang pernah pergi dan telah lama tak berkomunikasi dengannya. Sahabat yang membuatnya berjuang menggapai banyak bintang dua tahun terakhir ini sehingga ia berhasil mencapai puncak, dan kini menjadi mahasiswi disini, di UGM, dengan beasiswa hasil prestasinya. Ia tak sabar lagi menceritakan banyak hal yang lama dipendamnya dan megeluarkan apa saja yang telah direncanakannya sejak semalam, dimana ia tak dapat tidur memikirkan hari ini.
“Maya,” suara lembut datang dari belakangnya. Maya menghentakkan napas, sejenak memejamkan mata, siap melihat Dila di belakangnya yang baru saja memanggilnya. Siap memeluk sahabatnya dengan segala sinar kerinduan. Siap mengumbar banyak cerita, bahkan siap menangis saking bahagianya.
Dan ia berbalik, dengan senyum tertahan. Namun, bukan Dila dibelakangnya. Melainkan seorang wanita berbalut pakaian hitam dengan air mata duka. Wanita yang diingatnya dulu lebih muda, ibu Dila.
.“Dila mana, Bu?” tanya Maya kecewa, dan mulai menebak-nebak dalam hatinya apa arti pakaian yang dikenakan ibu Dila itu. Apakah Dila…
Maya menepis tiap hal buruk yang terlintas dipikirannya. Ia meyakinkan diri bahwa Dila…
“Tadi, baru saja, Dila dimakamkan. Kemarin Dila kecelakaan. Namun sebelum pergi Dila sempat berpesan dan membuat surat untukmu.” jawab ibu Dila dengan tangis.
Maya merasakan bahwa air mata yang disiapkannya tadi jatuh dalam kekecewaan sekaligus kepedihan yang amat sangat. Bahwa kini timbul getaran hebat yang mengguncang tiap sudut organnya sehingga isaknya tak tertahan. Ia beku, bibirnya kelu, kakinya terpaku. Adakah ia akan sanggup?

Sabtu, 09 Februari 2008

Diam

Catatan Unknown pada 1:11 PM 0 komentar
Mengapa bibir kita beku
Mengapa pikir kita berdebu
Mengapa hati kita tak pilu
Mengapa kita hanya saling paku

Kita diam...

Ketika menangis saudara kita
Ayahnya syahid, ibunya menjerit

Kita diam...
Ketika habis mereka
Disantap peluru laknat

Mengapa kita diam?



Jum'at, 1 Februari 2008

Selasa, 11 Desember 2007

Tidur

Catatan Unknown pada 11:49 PM 0 komentar

Malam telah larut, angin dingin mendekap pilu. Langit hitam semakin bergairah menebar deras hujan. pertir tak henti bersahutan menerjang riangnya nyanyian katak.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.00. Sudah larut, kuhempaskan tubuhku ke kasur kapuk tipis yang setia menemani lelapku sejak dulu. Lalu kupejamkan mataku. Namun, sekilas terlintas dipikiranku seorang wanita setengah baya yang hidup penuh pengorbanan, ibu. Entah mengapa hatiku tiba-tiba memaksa agar aku melihat keadaannya. Tanpa piker panjang, kulangkahkan kakiku ke kamar ibu disebelah kamarku. Nihil, beliau tidak di kamarnnya.
Kemana ibu? Mengapa sudah selarut ini belum tidur juga? Mungkin ia mendapat pesanan jahitan yang banyak. Tapi, setahuku dari tadi aku tak mendengar ributnya mesin jahit di rumah kecil ini.
Kuputuskan memeriksa ruang jahitnya. Benar saja, ibu disana. Dan beliau tertidur pulas di kursi jahitnya, dengan kepala menopang pada meja mesin jahit. Melihat raut lelahnya, aku benar-benar tak tega membangunkannya. Kuambil sehelai kain di rak jahitnya, lallu kuselimuti punggungnya. Dengan harapan angin dingin tak menyentuh tubuh mulia itu. Lalu kulangkahkan kakiku ke kamar, agar aku pun dapat beristirahat.
Malam berlalu, mentari datang menyongsong pagi. Aku telah siap dengan bauu putih abu-abu dan tas sekolahku. Sesuai kebiasaan yang telah ditanamkan ibu sejak kecil, aku pun melangkahkan kaki ke dapur, sarapan. Namun kali ini tak kutemukan apa-apa disana. Hanya tudung kosong. Apa ibu tidak memasak? Biasanya ibu selalu bangun terlalu pagi dan menyiapkan segalanya.
Kuputuskan memeriksa kembali ruang jahit. Terlihat rautnya yang mulai keriput masih pulas di depan mesin jahitnya. Mimipi apakah beliau sehingga begitu betah tidur dengan posisi seperti itu? Mungkinkah ia mimpi bertemu almarhum bapak yang ia rindukan?  Lagi-lagi kuputuskan untuk tidak membangunkannya, lebih baik kali ini aku berangkat tanpa sarapan.
Dan tidak sarapan membuat perutku berteriak-teriak selama di sekolah, sementara aku harus berhemat. Kupaksakan agar diriku sabar menanti pulang.
Dan pukul 15.00, aku keluar dengan riang, segera menuju rumah, berharap makanan kesukaanku telah tersaji di meja. Namun, tidak ada apa-apa. Ibu tidak memasak lagi.
“Bu???” panggilku.
Tidak ada jawaban.
“Ibu…”
Tidak ada jawan.
Aku segera memeriksa ruang jahit. Ganjil sekali. Ibu masih disana, dengan posisi yang sama. Kali ini aku harus membangunkannya, tapi firasatku mulai buruk. Segera kusentuh bahunya, tangannya jatuh begitu saja, diikuti tubuhnya ambruk ke lantai. Lalu kusentuh kulitnya, dingin, dingin sekali.
Aku menggeleng, air mataku mulai turun, hatiku takut, sangat takut, namun kuberanikan mendekatkan jariku ke rongga hidungnya. Dan sehembus angin pun tak keluar, ia tak lagi bernapas.
Kini aku benar-benar menangis, meratap, tak kuasa kusaksikan tubuh itu kini kaku. Ia telah pergi, telah lepas dari deritanya di dunia. Namun, ia juga meninggalkanku sebatang kara di sini.


 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation