Selasa, 04 Januari 2011

Lirik Hijjaz - Sebelum Mata Terlena

Catatan Unknown pada 8:04 PM 0 komentar
Sometime, I remember all my mistake...


Sebelum mata terlena 
Di buaian malam gelita 
Tafakurku di pembaringan 
Mengenangkan nasib diri 

Yang kerdil lemah yang bersalut dosa 
Mampukah ku mengharungi titian sirat nanti 
Membawa dosa yang menggunung tinggi 
Terkapai ku mencari limpahan hidayah Mu 

Agar terlerai kesangsian hati ini 
Sekadar air mata tak mampu membasuhi dosa ini 

Sebelum mata terlena 
Dengarlah rintihan hati ini 
Tuhan beratnya dosa ku 
Tak daya ku pikul sendiri 

Hanyalah rahmat dan kasih sayang Mu 
Yang dapat meringankan hulurkan maghfirah Mu 
Andainya esok bukan milik ku lagi 
Dan mata pun ku tak pasti akan terbuka lagi 

Sebnelum berangkat ke daerah sana 
Lepaskan beban ini 
Yang mencengkam jiwa dan raga ku 

Selimut diri ku 
Dengan sutra kasih sayang Mu 
Agar lena nanti ku mimpikan 
Syurga yang indah abadi 

Pabila ku terjaga 
Dapat lagi ku rasai 
Betapa harumnya 
Wangian syurga firdausi oh Ilahi 

Disepertiga malam 
Sujud ku menghambakan diri 
Akan ku teruskan pengabdian ku pada Mu

Minggu, 12 September 2010

Jum'at Berkebun

Catatan Unknown pada 10:57 AM 0 komentar









Sabtu, 16 Januari 2010

Merah Saga

Catatan Unknown pada 11:19 PM 0 komentar
Saat langit berwarna merah saga

Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi
Atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
Atas keteguhanmu

Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah ditanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad palestina

Perjuangan telah kau bayar
Dengan jiwa, syahid dalam cinta-NYA

Saujana - Suci Sekeping Hati

Catatan Unknown pada 12:24 AM 0 komentar
Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

Sabtu, 12 Desember 2009

Di Balik Takbir

Catatan Unknown pada 11:50 PM 0 komentar


Allahuakbar!
Demikianlah kalimat takbir yang begitu membahana. Cobalah rasakan, ketika semangat kita turun atau jenuh dalam suatu pekerjaan, lalu kita melantangkan kalimat takbir sambil mengepalkan tangan kanan dan meninju udara, maka akan terasa timbul semacam ruh yang mengalir dalam tubuh kita seakan-akan memberikan kekuatan. Atau ketika hendak memulai pekerjaan yang berat, dan kita melantangkan kalimat takbir, maka akan timbul semangat dalam jiwa. Mengapa demikian? Apakah kalimat takbir punya jampi-jampi tersendiri?
Eits, kalimat takbir bukan jampi-jampi. Kalimat takbir adalah ungkapan pengagungan terhadap kebesaran Allah. Disisi lain, takbir juga berarti pernyataan seorang hamba terhadap dirinya yang sangat kecil. Apalah artinya seorang hamba tanpa pertolongan Allah yang maha besar.  Dalam takbir, kita secara tidak langsung mengakui bahwa kita membutuhkan Allah, dan Allah selalu ada untuk kita. Keyakinan bahwa Allah akan memberikan kekuatan dan memudahkan urusan hambanya lah yang menjadikan kalimat takbir memberikan kekuatan bagi jasad dan  motivasi tersendiri bagi kita, yang membuat kita yakin, apapun yang kita dilakukan , Allah ada bersama kita, dan kebesaran-Nya akan memberikan segenap kekuatan pada kita  dalam setiap persoalan.
Itulah sebabnya kalimat takbir yang kita ucapkan dengan segenap hati akan memberikan motivasi pada ruh kita. Subhanallah, indahnya kalimat takbir itu. Allahuakbar!!!

Minggu, 13 September 2009

Belajar Ngedit Photo

Catatan Unknown pada 8:46 AM 0 komentar

Wkwkwk
Lagi bosen sih, jadi kegiatannya geje gini deh,,,
Serem iih,,,,,
Lagi pada ngapain yaaah????


Iiiiyyyyaaaaakkkkk,,, poto-poto diatas merupakan poto yang saya edit. Kalau masih jelek dan rada ngga nyambung maklumi aja, namanya juga 'pemula'. Baru mengenal dunia edit-editan poto, wkwkwk....

Sabtu, 13 Desember 2008

Sampai Jumpa di UGM

Catatan Unknown pada 11:42 PM 0 komentar
“Maaf…” Dila meraih jemari Maya yang lemas dan dingin.
“Bukan salah kamu.” Maya menunduk lesu, menyembunyikan dua matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Kalau begitu maaf jika kemarin-kemarin aku punya salah.” Dila memejamkan matanya pelan, meneteskan dua bulir air jernih.
Maya hanya mengangguk bisu, sementara tubuhnya yang beku mulai bergetar, tak sanggup menahan alir dari dua pelupuk matanya. Kepala yang sedari tadi disembunikannya mulai ditengadahkannya sehinnga mata basahnya menatap dalam sahabat didepannya yang akan pergi karena pekerjaan orang tua yang tak dapat dimengerti. Dan bagaimana bisa orang yang telah dianggapnya saudara harus pergi. Bahkan, Dila adalah teman yang tak pernah absen sebangku dengannya sejak mereka bermain di sekolah dasar hingga kini, tahun pertama SMA. Dila pula yang selalu menjadi guru ketika ia tak mengerti pekerjaan rumah yang diberikan, dan Dila pula sebagai tempat berbagi yang mampu memberikan solusi bijaksana dalam kedewasaannya. Apakah ia sanggup tak punya Dila lagi?
“May, kamu punya cita-cita, kan?” tanya Dila dengan mata yang juga basah.
Untuk yang kedua kalinya Maya mengangguk bisu. Bibirnya yang gemetar tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
“Dan kamu ingat, kita punya rencana kuliah di UGM.”
Lagi-lagi Maya hanya mengangguk. Sejenak hening, mereka diam. Tak salah jika orang seperti Dila mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia memang rajin tak begitu saja putus asa jika sekali gagal. Semangatnya tinggi, dan semangat itulah yang selalu ditularkannya kepada Maya ketika Maya mulai jenuh. Itu pulalah yang membuat Maya tak percaya jika nanti Dila pergi ia akan bisa melawan kejenuhannya.  
 “Kita pasti akan ketemu dua tahun lagi, di UGM.” suara Dila memecah, penuh percaya diri.
“Tapi,” Maya menatap Dila dalam, mencari kejelasan tentang bagaimana ia akan bisa tanpa orang yang selama ini dianggapnya peri prestasinya. Tak ada jawaban. “Dil, aku tak pernah mengerti matematika sebelum kamu menjelaskannya. Dan jika kamu pergi…”
“May!” Dila balik menatap Maya tajam. “Apa sih yang ngga bisa? Kamu kira selama ini yang membuat nilaimu tinggi itu, aku? Ngga, May. Kamu pasti bisa sendiri.”
“Dil, tapi aku…”
Dila langsung memeluk erat sahabatnya. Berat, sangat berat. Jika saja ia boleh memilih, ia tak akan pergi. Namun kenyataan bahwa ia masih membutuhkan kedua orang tuanya, membuatnya tak dapat tinggal. 
“Dila, kita sudah terlambat, nanti ketinggalan pesawat. Kalau sempat kita akan main kesini, kok.” ibu Dila tersenyum lembut.
Maya perlahan melepas peluk sahabatnya. Air mata yang mengalir dari dua pasang sinar mata mereka masih belum berhenti. Sepatah katapun tak dapat keluar lagi dari kuncup bibir mereka.
“Kita bisa May…” bisik Dila pelan, lalu menjauh, memasuki mobil yang sedari tadi menunggu.
Maya kini benar-benar harus melepas Dila. Seorang sahabat bahkan saudara yang tak kan pernah dimilikinya lagi. Karena tak ada lagi yang dapat mengganti kenangan manis bersama Dila setelah lima belas tahun dunia dilewatinya.
Dila memasuki mobil dan melambai dari kaca yang terbuka lebar. Sementara roda-roda mobil itu mulai menjauh perlahan. Dila menatap tajam dan berteriak keras,”Sampai jumpa di UGM!!!”. Dan mobil pun melaju kencang.
Maya terdiam, kakinya tak sanggup menjauh. Dila pergi, dan apakah bisa ia memenuhi pertemuan nanti di UGM. Ia tak yakin ia bisa, ia tak yakin…
***
Maya memandang kampus barunya sekaligus setiap orang yang lalulalang. Ia mencari Dila, sahabat yang ia rindukan. Yang pernah pergi dan telah lama tak berkomunikasi dengannya. Sahabat yang membuatnya berjuang menggapai banyak bintang dua tahun terakhir ini sehingga ia berhasil mencapai puncak, dan kini menjadi mahasiswi disini, di UGM, dengan beasiswa hasil prestasinya. Ia tak sabar lagi menceritakan banyak hal yang lama dipendamnya dan megeluarkan apa saja yang telah direncanakannya sejak semalam, dimana ia tak dapat tidur memikirkan hari ini.
“Maya,” suara lembut datang dari belakangnya. Maya menghentakkan napas, sejenak memejamkan mata, siap melihat Dila di belakangnya yang baru saja memanggilnya. Siap memeluk sahabatnya dengan segala sinar kerinduan. Siap mengumbar banyak cerita, bahkan siap menangis saking bahagianya.
Dan ia berbalik, dengan senyum tertahan. Namun, bukan Dila dibelakangnya. Melainkan seorang wanita berbalut pakaian hitam dengan air mata duka. Wanita yang diingatnya dulu lebih muda, ibu Dila.
.“Dila mana, Bu?” tanya Maya kecewa, dan mulai menebak-nebak dalam hatinya apa arti pakaian yang dikenakan ibu Dila itu. Apakah Dila…
Maya menepis tiap hal buruk yang terlintas dipikirannya. Ia meyakinkan diri bahwa Dila…
“Tadi, baru saja, Dila dimakamkan. Kemarin Dila kecelakaan. Namun sebelum pergi Dila sempat berpesan dan membuat surat untukmu.” jawab ibu Dila dengan tangis.
Maya merasakan bahwa air mata yang disiapkannya tadi jatuh dalam kekecewaan sekaligus kepedihan yang amat sangat. Bahwa kini timbul getaran hebat yang mengguncang tiap sudut organnya sehingga isaknya tak tertahan. Ia beku, bibirnya kelu, kakinya terpaku. Adakah ia akan sanggup?
 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation