Selasa, 09 Oktober 2012

Di atas Tanah Hitam

Catatan Unknown pada 8:56 AM 0 komentar


Tanah hitam terhampar 
jauh ke ujung dunia
Basah dan legam,
seakan hujan tiap waktu bertandang
Diantaranya 
hampa...
Hanya tergeletak 
sepotong dua potong ampas
Tanpa tumbuh 
satupun kehidupan
Kosong, 
ya... kosong
Tak berdaun 
padahal riuh kesuburan
Tak bernyawa 
padahal kaya kemuliaan
Dan disanalah 
kaki ini menapak
Mencari sepotong ranting
Untuk menanam 
kelopak-kelopak sakura 

Rabu, 12 September 2012

Keuangan Dalam Organisasi

Catatan Unknown pada 9:02 AM 0 komentar

Tulisan ini adalah hasil wawancara dengan Bendahara Umum FSKI, Kak Raudhatul Husnia Agus, sebagai tugas magang dari BROCA KM FK UNAND. Saya akui kejelekan tulisan ini... Yaah, namanya juga baru belajar :D

___________________________________________________________________________
Organisasi adalah kelompok yang bekerja untuk mencapai suatu tujuan. Tentunya dalam mencapai tujuan ini organisasi apapun membutuhkan uang, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Seberapapun jumlah uang tersebut, setiap organisasi perlu mengatur dan mengolahnya dengan baik. Cara mengatur,  mengolah dan mengalokasikan keuangan supaya terpakai dengan efektif dan efisien itulah yang disebut sebagai memanajemen keuangan. Itulah yang dipaparkan Raudatul Husnia Agus yang lebih akrab disapa Nia, bendahara FSKI dalam wawancara yang dilakukan di Masjid Dawaul Ilmi beberapa hari lalu.
 
Manajemen keuangan dalam organisasi ini dinilai sangat penting untuk meminimalisasi risiko yang dapat ditimbulkan oleh uang, mengingat betapa pentingnya nilai uang itu sendiri dalam kehidupan. Tanpa uang akan banyak hal yang tidak dapat terlaksana. Karena itulah pemasukan dan pengeluaran uang ini harus jelas dan tersusun secara sistematis.
Dalam memanajemen keuangan  diperlukan buku kas. Di dalam buku kas dicantumkan debit, kredit, saldo, keperluan, keterangan, serta waktu berupa hari dan tanggal. Dengan begitu akan jelas keluar masuknya uang sehingga bendahara dan pengurus lain dapat bersama mengevaluasi keuangan organisasi. Selain itu, dalam setiap pengeluaran dibutuhkan bukti pembayaran, bon, dan semacamnya.
Menurut Nia, bukan hanya bendahara umum yang berperan dalam memanajemen keuangan ini. Tapi juga danus dan bendahara tiap departemen atau biro. Pengurus lain pun juga secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam manajemen keuangan. Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang lancar dalam permasalahan keuangan ini. Kadangkala kebutuhan suatu departemen akan uang diberitahukan kepada bendahara umum dalam keadaan mendesak sementara bendahara tidak membawa persiapan apa-apa. Ini merupakan hambatan memanajemen keuangan yang disebabkan karena kurangnya komunikasi sehingga pemenuhan permintaan dana dapat terlambat.
Oleh karena itu, manajemen keuangan ini memerlukan perencanaan yang matang. Pada rapat yang diadakan, bendahara tiap departemen atau biro harus melaporkan keperluan apa saja yang membutuhkan dana, serta jelas berapa dananya sekaligus waktu dana itu akan digunakan. Selain itu sangat dibutuhkan pembuatan form permintaan dana. Namun, hal ini sering tidak dijalankan, aku Nia.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Kawan

Catatan Unknown pada 12:39 PM 0 komentar
Di bawah ini bukanlah puisi, tapi lirik sebuah lagu.
Dulunya, lagu ini menjadi yel-yel kelas di saat saya SMP kelas 1 dulu,,
Sungguh sangat menyentuh~


Kawan...
Jangan biarkan dirimu
Seperti rama-rama
Cantik...
Namun akhirnya
Menjadi perhiasan di dinding

Kawan...
Jangan biarkan dirimu
Seprti lipan dan kala
Berbisa...
Namun akhirnya
Menjadi perhiasan di meja tulis

Oh, kawan
Jadilah seperti si matahari
Membakar diri demi insan sejagat

Oh kawan
Jadilah seperti bulan purnama
Menerangi malam yang gelap gulita
Menunjukkan jalan
Demi insan semesta~

Selasa, 07 Agustus 2012

Aku dan Aku Menjadi

Catatan Unknown pada 11:46 AM 0 komentar


Pernah melihat matahari?
Sinarnya terang bukan?
Menyinari pagi hingga senja hari
Membantu penjuangan jiwa-jiwa yang berkarya di bumi

Hey, begitulah aku ingin hidup dengan segenap kemampuanku

Pernah melihat bulan?
Yang temaram dengan kekurangan
Tidak seperti matahari, ia kelam
Tak punya cahaya yang terang
Namun, bulan tak putus asa
Ia meminjam sinar matahari, karena matahari pun terbatas dalam menyinari sisi bumi
Lalu bulan beranjak kesisi gelap bumi dan memantulkan cahaya matahari
Hingga malam gulita pun mendapat secercah harapan
Mungkin tanpa lampu di bumi apalah pula artinya bulan
Tapi bulan memang tanpa makna
Selain menyalurkan cahaya, ia juga memberi ketenangan
Melelapkan jiwa diambang petang
Memberi istirahat pada pemimpi yang besar

Hey, begitu pulalah aku ingin hidup dengan segenap kekuranganku

Kini, lihatlah ke bumi

Lihat, disana ada pohon!
Jelas bukan?
Tapi, pernah memperhatikan akarnya?
Ya, akar...
Bukan daunnya, bukan bunganya, bukan pula buahnya
Tapi akar...
A-K-A-R
Yang tersembunyi dibawah tanah
Sedikit mencuat malu-malu ke atas
Akar benar-benar tidak ingin dilihat
Tidak ingin dikenal
Tidak ingin dipuja seperti cantiknya bunga
Tidak ingin digemari seperti manisnya buah
Dan dibalik persembunyiannya, akar terus berjuang
Mencari dan mencari, menyokong tegaknya pohon
Terkubur semakin dan semakin dalam
Namun, dengan giatnya, tumbuhlah cantiknya bunga itu
Manisnya buah itu
Yang dipuja dan digemari orang
Dan akar tak pernah iri pada bunga dan buah
Ia pun tak pernah muncul dan meneriaki orang-orang yang memuja bunga
Baginya cukuplah didalam sana
Mengais tulus yang dipersembahkan untuk seisi bumi

Hey, begitulah aku ingin hidup, tersembunyi, namun memberikan manfaat besar

Pernah melihat intan?
Ya, intan, bukan berlian
Berlian adalah intan yang telah dikikir sedemikian hingga dan memancarkan kilau kecantikan
Tapi intan belum tentu akan jadi berlian
Intan dulunya tertanam jauh berkilo-kilo meter di bawah permukaan bumi
Terhimpit tekanan kuat dan panas membara lava gunung api
Terus ditekan dan dibakar
Oh, iya, pernah mencicipi ayam presto?
Sama bukan, ayam presto itu dibuat dengan penekanan dan pemanasan
Tapi alangkah sedihnya, ia malah menjadi lunak, tulang-tulangnya yang keraspun rapuh
Tidak begitu dengan intan
Himpitan dan pemanasan justru membuatnya keras
Semakin dan semakin keras
Bahkan lebih keras dari baja
Hingga akhirnya keluar ke permukaan bumi

Hey, begitulah aku ingin hidup, bertahan diantara tekanan

Jika masih bertanya siapa aku, lihatlah lagi matahari, bulan, akar, dan intan
Lalu, kau pun pasti kan ragu, sesempurna itukah aku?

Tidak, ya, tidak!!!
Sepuluh persen dari matahari, bulan, akar, dan intan pun aku tidak

Lalu?

Siapa aku?

Ya, aku hanya setitik debu 
yang tidak bersinar namun ingin menjadi seterang matahari
yang tidak indah namun ingin menjadi sedamai bulan
yang tidak murni namun ingin menjadi setulus akar
yang tidak berkilau namun ingin menjadi sekuat intan

Dan jika kau sangka aku debu yang berterbangan dan memedihkan matamu
Bukan, bukan pula aku!!!

Karena biar aku debu, aku akan berjuang, berusaha sepenuh energiku
Untuk memberi yang seperti matahari, bulan, akar, dan intan berikan~

~Ditulis dengan tinta harapan, Padang, penghujung Oktober yang penuh kesibukan~

Kamis, 21 Juni 2012

Raudhah

Catatan Unknown pada 9:06 AM 0 komentar
Raudhah itu adalah nama tempat yang ditetapkan sebagai taman di syurga oleh Rasulullah
Raudhah itu kukenal saat kelas satu SMP
Raudhah itu name of my first halaqoh, kelompok kecil pertama dimana aku belajar Islam lebih dalam
Raudhah itu pernah menampilkan drama tentang perang...
Raudhah itu ranah pertama aku belajar membuat pembatas buku (dengan tangan sendiri) yang mana pembatasnya sampai sekarang masih disimpaaannn...
Raudhah itu pernah ada konflik juga beberapa kali
Raudhah itu kreatif
Raudhah itu mentor nya ustazah Amel, sekarang beliau apa kabar ya???
Raudhah itu isinya ada Intan, Rizqa, Welly, Wulan, Zahra, Suci, Iga, Nia, Husna, Dila Z,, teman-teman, antunna apa kabar??????? Pada dimana ini sekarang???
Raudhah itu yel-yel nya gini (baru ingat nih, kalau ngga salah nadanya pake lagunya Justice Voice, tapi lupa deh judulnya...)
Diposkan oleh Rizqa di FB
Raudhah itu udah lama banget yaaakk.... tapi keinget lagi gara-gara postingannya rizqa -_-
Raudhah itu pengen diabadikan di blok ini, biar kita ingat terussss sampai nenek-nenek.....
Raudhah itu, aku kangeeennn....


[Lain kali mau juga tulis tentang Asy-Syifa dan Khairatun Hisan :)]



Kamis, 17 Mei 2012

Papa, Aku pun Pantas Dibanggakan

Catatan Unknown pada 10:58 PM 0 komentar

“Bagus… pertahankan, Hasbi! Kalau perlu sampai lulus kamu peringkat pertama terus.” puji papa seraya meneruskan makan siangnya.
Hasbi tersenyum bangga. Aku meliriknya sekilas dan kembali menatap kecut menu makan siangku. Kurasakan Mama melirik pasrah padaku merasakan kekecewaan yang seketika timbul dibenakku.
“Kamu Retha, peringkat keberapa?” Tanya papa, kali ini matanya tajam melihatku. Rasanya aku ingin yang mengambil raportku tadi pagi papa saja, bukan mama. Agar dia tak perlu bertanya lagi sebelum mulai membandingkanku dengan anak kesayangannya itu.
“Hmm… 17 dari empat puluh orang, pa…” jawabku lambat.
“Hmmm,” sikap meremahkan papa mulai keluar, “ngga malu kamu sama adik kamu?”
Aku terdiam. Selera makanku telah hilang sejak tadi papa mulai bicara. Hasbi sekilas ikut melirikku.
“Umur saja yang tua, tapi otak tidak berkambang. Papa ngga kaget dengar kalau kamu tidak tiga besar. Pikiran kamu cuma menggambar dan main. Lihat adik kamu, matematikanya tinggi, calon arsitek. Gambarnya juga tidak kalah bagus dengan kamu.” Ujar papa.

Hatiku tiba-tiba perih. Sementara Hasbi dan mama hanya diam. Di rumah ini memang tak ada yang dapat membelokkan kata-kata papa. Bagiku cukup sebagai dukungan ketika mama memperlihatkan raut simpati dan Hasbi mulai segan.
“Anak seperti kamu memang tak bisa diharapkan. Lebih baik berhenti saja kamu sekolah, bantu mamamu.” Sambung papa.
Aku semakin merunduk, menyembunyikan mataku yang mulai berkaca-kaca. Hal ini memang sudah sering dilontarkan papa, tapi masih saja aku perih mendengarnya. Andai papa tidak kerja di luar kota dan setiap malam melihatku yang berusaha keras untuk menjadi tiga besar. Hah, mengapa aku diciptakan sebagai gadis ber-IQ jongkok?
“Hasbi, sebagai hadiah, papa hari ini akan membelikan kamu motor. Ayo, setelah makan siap-siap! Ma, uang yang kemarin itu bawa kesini, ya!” ujar papa penuh semangat.
Hasbi terlihat girang.
“Pa, bukannya uang itu akan dibelikan biola untuk Retha? Untuk lomba minggu depan. Lagipula, sebulan yang lalu Hasbi sudah dibalikan laptop.” Mama heran.
“Hah, masa bodoh dengan biola. Apa manfaatnya? Kalau motor kan bisa dipakai untuk berangkat sekolah, Retha juga ikut menikmati manfaatnya, pasti Hisbi akan mengantarnya juga. Toh laptop itu juga sering dipakai Retha untuk mendengarkan musik tidak jelas.”
Mama menatapku sekilas, aku hanya tersenyum kecut, mengangguk. Aku tahu, mama juga sedih, namun terpaksa melakukan keinginan papa.
Ya, papa mana peduli dengan kemauanku. Padahal biola itu untuk mengikuti babak final lomba biola seprovinsi agar aku tak perlu meminjam lagi. Mana papa tahu yang kusisihkan hingga babak final adalah orang dewasa dan aku peserta termuda. Mana papa peduli sebelum-sebelumnya aku pernah memenangkan lomba tenis meja seprovinsi, lomba renang, lomba paduan suara, bahkan lomba nyanyi solo.
Bagi papa, itu bukan prestasi. Yang prestasi itu Hasbi. Ya, memiliki Hasbi. Memiliki anak laki-laki setelah empat anak perempuan. Apalagi ketiga kakakku telah menikah.
Dan setelah papa pegi bersama Hasbi, mama membelaiku. Air mataku membuncah dipeluknya.
***
Kembali kubayangkan proyek yang sedang aku jalankan sementara tanganku memutar stir mobil. Sekilas aku tersenyum bangga, mengingat sebelum aku pergi tadi rekan-rekanku memujiku berlebihan. Rancangaku sebagai arsitek muda dianggap suatu mahakarnya.
Ringtone handphoneku tiba-tiba berbunyi. Kuangkat, dari mama.
“Kenapa, ma?”
“Kamu dimana? Pertunjukan biola Hasbi sebentar lagi mulai, dia cemas kamu tidak datang.” Terdengar  mama nyaris berteriak di sebrang sana.
“Iya, ma, aku bentar lagi sampai.”
Kututp handphone-ku, kufokuskan diriku pada jalan, kupercepat laju mobilku.
Ya, sejak hari itu semua berubah. Sejak air mataku membuncah dipeluk mama setelah mendengar kabar papa dan Hasbi kecelakaan ketika hendak membeli motor. Papa meninggal, sementara Hasbi sampai saat ini buta.
Lalu kuputuskan untuk tidak mengikuti babak final itu, aku gugur. Dan aku mulai focus pada cita-cita papa yang tidak kesampaian karena kurangnya biaya, arsitek. Saat itu pula aku mengajari Hasbi berbagai alat music. Kulatih ia dengan sabar sementara matanya tak dapat melihat.
Dan kini, satu cita-cita terbesarku, membuat Hasbi dapat melihat kembali, mengembalikan warna pelangi dalam hidupnya. Mengembalikan kebanggaan almarhum papa padanya, juga meraih kebanggaan itu untukku, karena aku pun pantas dibanggakan papa.

Senin, 07 Mei 2012

Cewek = Cowok ???

Catatan Unknown pada 8:52 AM 0 komentar
       



 

Se-kepinghati | Powered by Blogger
Blogged by Intan Evrt | Blogger Template by Se-kepinghati Corporation